TUJUAN EKONOMI ISLAM


TUJUAN EKONOMI ISLAM
Oleh : Muhammad Hambali

Abstrak

Marx Achmad

Marx Achmad

Di awal kemunculannya, ekonomi Islam mendapat tanggapan beragam dari para pakar Islam. Tanggapan tersebut berakar pada perbedaan sudut pandang dalam memaknai konsep-konsep dalam al-Qur’an dan al-Hadis. Perbedaan sudut pandang tersebut meliputi 3 hal. Pertama Metodologi yang di pakai dalam membangun ekonomi Islam dan sistem ekonomi Islam. Kedua Perbedaan tafsir konsep ekonomi yang ditemukan dalam al-Qur’an seperti istilah khilafah dan implikasi kepemilikan. Ketiga penafsiran yang berbeda terhadap bangunan sistem ekonomi. Dari perbedaan sudut pandang tersebut, setidaknya dalam diskursus pemikiran ekonomi kontemporer terbagi menjadi 3 mazhab utama, pertama mazhab Baqir Sadr yang berpandangan antara ekonomi dengan Islam sama sekali tidak ada hubungannya. Kedua Mazhab Mainstreem yang dipelopori M.A Mannan dengan pola pendekatan ekletisnya dan Ketiga mazhab alternatif-kritis yang di pelopori Dr. Timur Kuran. Dari sudut tujuan ekonomi Islam pada dasarnya para pakar ekonom kontemporer sepakat bahwa tujuan ekonomi Islam adalah mewujudkan kehidupan yang sejahterah (hayyah toiyibah) baik di dunia maupun di akhirat. Dr. Muhammad Ruwasi Qal’aji salah satunya menyatakan bahwa tujuan ekonomi Islam terdiri atas 3 hal yakni pertama mewujudkan pertumbuhan ekonomi dalam Negara, kedua mewujudkan kesejahteraan manusia dan ketiga mewujudkan mekanisme distribusi kekayaan yang adil.

A. Pendahuluan
Dalam paradigma konvensional, ilmu ekonomi merupakan ilmu mengenai cara-cara manusia dan masyarakat dalam menentukan atau menjatuhkan pilihan dengan atau tanpa uang untuk menggunakan sumber-sumber produktif yang langka yang dapat mempunyai pengunaan-penggunaan alternatif untuk memproduksi berbagai barang serta membaginya untuk dikonsumsi baik untuk waktu sekarang maupun yang akan datang kepada berbagai golongan dan kelompok di dalam masyarakat.1
Dari difinisi di atas, dapat di pahami bahwa ilmu ekonomi merupakan ilmu yang membahas permasalahan-permasalahan seperti problem of choise, kelangkaan sumber produktif, penggunaan uang, serta permasalahan produksi dan distribusi. Oleh karena itu, setiap sistem ekonomi pada hakekatnya bertujuan memecahkan permasalahan tersebut terutama dalam bidang produksi dan distribusi yang dijabarkan dalam 3 terminologi pokok yakni what, haw dan for whom.
Islam sebagai agama sekaligus pandangan hidup (world view) berpendapat bahwa segala sesuatu yang berkenaan dengan kehidupan manusia pada dasarnya telah di desain sedemikian rupa oleh Allah SWT, sehigga segala permasalahan yang muncul pada hakekatnya telah dipersiapkan jawabannya. Dalam konteks ini paradigma konvensional di atas yang memandang masalah ekonomi muncul karena faktor kelangkaan sumber daya produktif yang dihadapkan dengan pola kebutuhan manusia yang tidak terbatas, di pandang sebagan kalangan ekonom Muslim kontemporer tidak tepat.2 Sebab, dalam al-Qur’an telah dijelaskan bahwa Allah SWT telah menciptakan segala sesuatu dalam ukuran yang benar sebagaimana dalam S. al-Qomar: 49 yang berbunyi :
$¯RÎ) ¨@ä. >äóÓx« çm»oYø)n=yz 9‘y‰s)Î/ ÇÍÒÈ
Artinya :” Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran”
Bagi kalangan ini, permasalah ekonomi muncul karena adanya sistem distribusi yang tidak merata dan tidak adil sebagai akibat atas sistem ekonomi yang membolehkan eksploitasi pihak yang kuat terhadap yang lemah. Oleh karena itu kalangan ini menilai bahwa istilah ekonomi tidaklah pernah ada dalam Islam, sebab antara Islam dengan ilmu ekonomi sama sekali tidak ada hubungannya. Pandangan seperti ini sebagaimana diungkapkan oleh kalangan yang mengamini mazhab Baqr Sadr.
Sedangkan bagi mazhab mainstream yang dipelopori M.A Mannan menyatakan yang dihadapi oleh ekonomi Islam pada hakekatnya tidaklah berbeda dengan permasalahan yang di hadapi oleh ilmu ekonomi konvensional. Oleh karena itu, dalam beberapa hal golongan ini berpandangan bahwa ekonomi Islam merupakan upaya untuk memecahkan permasalahan-permasalahan masyarakat yang di ilhami oleh nilai-nilai Islam. Dalam hal ini, pola pendektan yang dipakai golongan ini terkenal dengan paradigma ekletisme.3
Adapun golongan ketiga, mazhab alternatif-kritis yang dipelopori oleh Dr. Timur Kuran berpendapat bahwa gagasan yang disuguhkan oleh 2 mazhab sebelumnya haruslah mendapatkan analisa kritis dari golongan umat Islam. Bagi mazhab ini apa yang telah ditemukan oleh mazhab Baqr Sadr pada hakekatnya telah ditemukan oleh ilmu ekonomi konvensional. Sedangkan yang dilakukan oleh mazhab maenstreem pada dasarnya sebagai upaya legitimasi ilmu konvensional dengan ajaran-jaran Islam.4
Makalah ini hendak mengkaji keberadaan sistem ekonomi Islam yang di gali dari pemikiran ekonom muslim yang berkompeten dalam bidangnya seperti M.A Mannan, Muhammad Najtullah Siddiqi, M. Umer Chapra, Taqiyuddin an-Nabhani, serta ekonom muslim lain, yang meliputi 2 aspek yakni asumsi dasar (difinisi ekonomi Islam) dan tujuan ekonomi Islam

B. Difinisi Ekonomi Islam
Adalah menjadi penting bahwa untuk mendapatkan pemahaman yang komperhensif mengenai tujuan ekonomi Islam, maka pertama kali yang harus kita lakukan adalah membangun persepsi yang sama tentang difinisi ekonomi Islam. Dari beberapa pendapat para ahli yang dapat penulis himpun, definisi ekonomi Islam terjabarkan dalam paparan berikut ini.
Dr. Rofiq Yunan al-Misri dalam bukunya yang berjudul Ushulul Iqtishad Al-Islamiyah berpendapat bahwa istilah Iqtishad yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia “ekonomi” pada hakekatnya bermakna al-Qasdu yang berarti al-tawasud (Pertengahan) dan al-I’tidl (adil/berkeadilan). Difinisi ini mengacu pada ayat al-Qur’an yang terdapat dalam S. Lukman: 19 dan S. al-Maidah : 66.5
Menurut Baqr Sadr ekonomi Islam merupakan sebuah ajaran atau doktrin dan bukan hanya ilmu ekonomi murni, sebab apa yang terkandung dalam ekonomi Islam bertujuan memberikan solusi hidup yang paling baik.6 Oleh karena itu, menurut Baqr Sadr, haruslah dibedakan antara ilmu ekonomi (science of economic) dengan doktrin ilmu ekonomi (doctrine of economic). Dengan kata lain, Baqr Sadr memandang ilmu ekonomi hanya sebatas mengantarkan manusia pada pemahaman bagaimana aktifitas ekonomi berjalan. Sedangkan doktrin ilmu ekonomi bukan hanya sekedar memberikan pemahaman pada manusia bagaimana aktifitas ekonomi berjalan, namun lebih pada ketercapaian kepentingan duniawi dan ukhrowi. Oleh karena itu, perbedaan pokok antara ekonomi Islam dengan ekonomi konvensional adalah terletak pada landasan filosofisnya bukan pada sainnya.
Sedangkan menurut M.A Mannan, ekonomi Islam adalah ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi rakyat yang di ilhami oleh nilai-nilai Islam.7 Bagi Mannan ekonomi Islam merupakan studi tentang masalah-masalah ekonomi dari setiap individu dalam masyarakat yang memiliki kepercayaan terhadap nilai-nilai kehidupan Islam atau Homo Islamicus. Secara keseluruhan gagasan ekonomi M.A Mannan dapat dikategorikan sebagai gagasan Islamisasi ekonomi konvensional. Hal ini nampak dalam pola pendekatan yang di pakai yang di awal dikatakan sebagai pola pendekatan ekletis.
Di sisi lain, Najtullah Siddiqi berpendapat bahwa ekonomi Islam merupakan jawaban dari pemikir muslim terhadap tantangan-tantangan ekonomi pada zamannya. Tidak berbeda dengan Mannan, Siddiqi juga menerima gagasan ilmu neoklasik (Konvensional) yang diselaraskan dengan nilai-nilai universal Islam seperti keadilan dan persaudaraan. Dalam hal ini, Siddiqi berpandangan bahwa ekonomi merupakan aspek budaya yang lahir dari pandangan hidup (world View) seseorang. Dengan kata lain, world view seseoranglah yang melahirkan sistem ekonomi bukan sebaliknya.8
Sementara Hasanuzzaman mengemukakan bahawa ekonomi Islam merupakan pengetahuan dan aplikasi ajaran-ajaran Syari’ah yang mencegah ketidak adilan dalam pencarian dan pengeluaran sumber-sumber daya, guna memberikan kepuasan bagi manusia dan memungkinkan mereka melaksanakan kewajiban-kewajiban mereka terhadap Allah SWT dan masyarakat.9
Dari paparan difinisi ekonomi Islam di atas, dapat kita tarik inti pemahaman bahwa pada dasarnya ekonomi Islam merupakan bentuk aktualisasi nilai-nilai universal Islam seperti al-Adl (keadilan) yang tertuang dalam al-Qur’an dan al-Hadis yang mengarahkan manusia pada tujuan pencapaian kebagagiaan di dunia dan akhirat. Perbedaan yang muncul dalam pemikiran ekonom muslim di atas seyogyanya berpusat pada pemakaian metodologi, penafsiran kosep ekonomi dalam Al-Qur’an seperti khilafah dan implikasi terhadap konsep kepemilikan serta penafsiran terhadap sistem ekonomi Islam.

C. Tujuan Ekonomi Islam
Islam memiliki seperangkat tujuan dan nilai yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk didalamnya urusan sosial, politik dan ekonomi. Dalam hal ini tujuan Islam (Maqasid al-Syar’i) pada dasarnya ingin mewujudkan kebaikan hidup di dunia dan akhirat.10 Dalam pada itu, permasalahan ekonomi yang merupakan bagian dari permasalahan yang mendapatkan perhatian dalam ajaran Islam, tentu memiliki tujan yang sama yakni tercapainya maslahah di dunia dan akhirat.
Beberapa pemikiran tokoh Islam mengenai tujuan dari ekonomi Islam dapat dijabarkan dalam uraian sebagai berikut. Dr. Muhammad Rawasi Qal’aji dalam bukunya yang berjudul Mabahis Fil Iqtishad Al-Islamiyah menyatakan bahwa tujuan ekonomi Islam pada dasarnya dapat dijabarkan dalam 3 hal, yakni :
Mewujudkan pertumbuhan ekonomi dalam Negara
Pertumbuhan ekonomi merupakan sesuatu yang bersifat fundamental, sebab dengan pertumbuhan ekonomi negara dapat melakukan pembangunan. Salah satu langkah yang dapat dilakukan dalam rangka menumbuhkan pertumbuhan ekonomi dalam Negara adalah dengan jalan mendatangkan investasi.
Berbicara tentang pembangunan, Islam memiliki konsep pembangunan tersendiri yang di ilhami dari nilai-nilai dalam ajaran Islam. Dalam hal ini konsep pembangunan ekonomi yang ditawarkan oleh Islam adalah konsep pembangunan yang didasarkan pada landasan filosofis yang terdiri atas tauhid, rububiyah, khilafah dan tazkiyah.

Mewujudkan kesejahteraan manusia
Terpenuhinya kebutuhan pokok manusia dalam pandangan Islam sama pentingnya dengan kesejahteraan manusia sebagai upaya peningkatan spiritual. Oleh sebab itu, konsep kesejahteraan dalam Islam bukan hanya berorientasi pada terpenuhinya kebutuhan material-duniawi, melainkan juga berorientasi pada terpenuhinya kesejahteraan spiritual-ukhrowi.
Menurut Umer Chapra, keselarasan kesejahteraan individu dan kesejahteran masyarakat yang senantiasa menjadi konsensus ekonomi Islam dapat terealisasi jika 2 hal pokok terjamin keberadaannya dalam kehidupan setiap manusia. 2 hal pokok tersebut antara lain :
Pelaksanaan nilai-nilai spiritual Islam secara keseluruhan untuk individu maupun masyarakat.
Pemenuhan kebutuhan pokok material manusia dengan cukup.
Bagi Islam, kesejahteraan manusia hanya akan dapat terwujud manakala sendi-sendi kehidupan ditegakkan di atas nilai-nilai keadilan. Dalam hal ini, konsep keadilan dalam ekonomi Islam bermakna 2 hal yakni :11
Bentuk keseimbangan dan porsi yang harus dipertahankan di antara masyarakat dengan mengindahkan hak-hak setiap manusia.
Bagian yang menjadi hak setiap manusia dengan penuh kesadaran harus diberikan kepadanya. Dalam hal ini, yang di tuntut ekonomi Islam adalah keseimbangan dan porsi yang tepat bukan persamaan.
Oleh karena itu , konsep kesejahteraan dalam Islam yang di atas dikatakan sebagai upaya untuk menselaraskan kepentingan dunia dan akhirat merupakan ciri pokok tujuan ekonomi Islam yang sekaligus di sisi lain membedakan konsep kesejahteraan ekonomi Islam dengan sistem ekonomi lain seperti kapitalisme yang berorientasi pada materialisme individual dan sosialisme yang berorientasi pada materialisme kolektif.

Mewujudkan sistem distribusi kekayaan yang adil
Dalam pandangan Islam adalah sesuatu yang sudah menjadi ketentuan bahwa setiap manusia memiliki kemampuan dan kecakapan yang berbeda-beda. Namun demikian perbedaan tersebut tidaklah dibenarkan menjadi sebuah alat untuk mengekspliotasi kelompok lain. Dalam hal ini kehadiran ekonomi Islam bertujuan membangun mekanisme distribusi kekayaan yang adil ditengah-tengah kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, Islam sangat melarang praktek penimbunan (ikhtikar) dan monopoli sumber daya alam di sekolompok masyarakat.
Konsep distribusi kekayaan yang ditawarkan oleh ekonomi Islam dalam hal ini antara lain dengan cara :

Menciptakan keseimbangan ekonomi dalam masyarakat.
Keseimbangan ekonomi hanya akan dapat terwujud manakala kekayaan tidak berputar di sekelompok masyarakat. Oleh karena itu, dalam rangka menciptakan keseimbangan ekonomi, Islam memerintahkan sirkulasi kekayaan haruslah merata tidak boleh hanya berputar di sekelompok kecil masyarakat saja.
Kondisi demikian dijelaskan dalam al-Qur’an S. al-Hasyr: 7 yang berbunyi :
ö’s1… Ÿw tbqä3tƒ P’s!rߊ tû÷üt/ Ïä!$uŠÏYøîF{$# öNä3ZÏB ÇÐÈ

Artinya :”supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang kaya saja di antara kamu”
Larangan Penimbunan Harta
Sistem ekonomi Islam, melarang individu mengumpulkan harta secara berlebihan. Sebab, dengan adanya pengumpulan harta secara berlebihan berakibat pada mandegnya roda perekonomian. Oleh karena itu, penimbunan merupakan prilaku yang dilarang dalam ajaran Islam. Hal ini ditegaskan oleh Allah SWT dalam al-Qur’an S. at-Taubah: 34 yang berbunyi :
3… šúïÏ%©!$#ur šcrã”É\õ3tƒ |=yd©%!$# spžÒÏÿø9$#ur Ÿwur $pktXqà)ÏÿZム’Îû È@‹Î6y™ «!$# Nèd÷ŽÅe³t7sù A>#x‹yèÎ/ 5OŠÏ9r& ÇÌÍÈ
Artinya : “Dan orang-orang yang menimbun emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, beritakanlah kepada mereka bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih”. (QS. At-Taubah : 34)
Sedangkan dalam rangka mencegah praktek monopolistik, ekonomi Islam menawarkan langkah prioritas yang perlu dilakukan oleh otoritas yang berwenang yang dalam hal ini adalah pemerintah.12 Langkah-langkah tersebut meliputi :
Zakat sebagai mekanisme pendistribusian harta dari golongan kaya kepada golongan miskin.
Negara harus mengamati dan mengatur pemerataan distribusi sumber daya alam.
Kekayaan masyarakat harus di kelolah negara dalam rangka optimalisasi hasil yang maksimal.
Jasa layanan masyarakat yang menghasilkan keuntungan seperti kereta api, pos dan telegraf, listrik, air dan gas harus dikelola negara dalam rangka untuk menjamin pengelolaan yang efisien dan hasil yang terbaik.
Jasa layanan masyarakat yang bersifat non profitables seperti jalan, sumur umum, tempat parkir dan yang lain harus di subsidi negara .

Sementara itu, pakar lain juga berpendapat bahwa tujuan ekonomi Islam tidak lain adalah mendorong tercapainya kesejahteraan dan keberhasilan di dunia dan akhirat. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Amin Akhtar yang menyatakan tujuan ekonomi Islam hanya dapat dipahami dalam konteks pandangan hidup Islam secara keseluruhan. Oleh karena itu, pada hakekatnya ekonomi Islam merupakan sistem yang berlandaskan pada nilai-nilai keadilan , kedermawanan, kemanfaatan serta kebajikan dan kemakmuran.13 Nilai-nilai tersebut jika dirujuk dalam al-Qur’an, maka akan di dapat beberapa nash yang melegitimasi nilai-nilai di atas.
Nilai keadilan dapat dijumpai dalam al-Qur’an S. an-Nisa: 135 yang menyatakan :
$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãYtB#uä (#qçRqä. tûüÏBº§qs% ÅÝó¡É)ø9$$Î/ uä!#y‰pkà­ ¬! öqs9ur #’n?tã öNä3Å¡àÿRr& Írr& Èûøïy‰Ï9ºuqø9$# tûüÎ/tø%F{$#ur 4 bÎ) ïÆä3tƒ $†‹ÏYxî ÷rr& #ZŽÉ)sù ª!$$sù 4’n$s)Ïèø9$#
Artinya : ”…. dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.

Bagi Amin Akhtar konsep keadilan dalam Islam meliputi 3 hal pokok yakni keadilan dalam produksi (al-intaj), keadilan dalam konsumsi (al-istihlaq) dan keadilan dalam Distribusi (al-Tauzi’). Keadilan dalam produksi berorientasi pada pengakuan hak manusia mencari nafkah sesuai dengan kemampuan, kecakapan dan bakat alam, namun tidak memperkenankan merusak moral dan tatanan sosial.
Keadilan dalam konsumsi berorientasi pada pelarangan segala bentuk pengeluaran yang dapat merusak moral dan masyarakat, seperti minuman keras, zina dan semua bentuk pengeluaran yang dapat merusak jiwa. Sedangkan keadilan dalam distribusi berorientasi pada keharusan terwujudnya pemerataan kekayaan dan faktor produksi.
Di sisi lain, M. Umer Chapra berpendapat tujuan sistem ekonomi Islam adalah mewujudkan masyarakat yang adil dan sejahterah.14 Dengan kata lain, bagi chapra keberadaan ekonomi Islam merupakan upaya merealisasikan pandangan hidup Islam (World Vieu) yang di gali dari maqasid al-syar’I. Pandangan hidup tersebut chapra menjabarkannya dalam 3 prinsip pokok yakni tauhid, khilafah dan al-adl (Keadilan)
Dalam rangka mewujudkan keselarasan tujuan dan pandangan hidup (world view) tersebut, maka bagu Chapra diperlukan sebuah setrategi tersendiri yang merupakan hasil logis dari landasan filosofis yang mendasarinya. Beberapa setrategi yang ditawarkan chapra dalam hal ini terdiri atas 4 unsur penting yang satu dengan yang lainnya saling mendukung. 4 unsur penting tersebut antara lain sebagai berikut :
Suatu mekanisme filter yang di sepakati oleh masyarakat. Mekanisme filter yang dimaksud adalah dengan meletakkan moralitas sebagai parameter dalam memanfaatkan sumber-sumber daya alam produktif. Dengan kata lain, bagi chapra mekanisme filter moral di sini mengharuskan setiap komponen masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya alam hanya diorientasikan dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat bukan tujan lainnya.
Suatu sistem motivasi yang kuat yang mendorong individu agar berbuat sebaik-baiknya bagi kepentingannya sendiri dan masyarakat.
restrukturisasi seluruh ekonomi, dengan mewujudkan maqasid.
Peran pemerintah yang berorientasi tujuan yang positif dan kuat.
Tidak jauh berbeda dengan tokoh sebelumnya, Taqiyuddin an-Nabhani dalam maqnum opusnya ” al-Nidzami al-Iqtishadi fi al-Islam ” menyatakan bahwa keberadaan ekonomi Islam memiliki tujuan mewujudkan sistem tata kelolah harta kekayaan yang selaras dengan ajaran Islam, dalam rangka menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat. Pandanag Taqiyuddin tersebut, tidak bisa kita lepaskan dari konsepsinya mengenai istilah ekonomi. Menurut Taqiyuddin, istilah ekonomi berasal dari bahasa Yunani kuno yakni greek yang memiliki arti mengatur urusan rumah tangga.15
Berakar dari pengertian tersebut, Taqiyuddin menyatakan bahwa ekonomi Islam bermaksud memberikan aturan dasar yang berkaitan dengan tata cara mengatur urusan harta kekayaan. Oleh karena itu, permasalahan pokok yang ditangani oleh ekonomi Islam terkait pengaturan harta kekayaan tadi, dijabarkan dalam 3 permasalahan pokok yang terdiri atas kepemilikan (al-milkiyah), pengelolaan kepemilikan (tasharuf al-milkiyah) dan mekanisme distribusi harta yang adil di antara manusia.16

E. Kesimpulan
Ekonomi Islam pada dasarnya merupakan aktualisasi nilai-nilai Islam dalam aktifitas kehidupan manusia dalam rangka mewujutkan kesejahteraan manusia di dunia dan akhirat.
Perbedaan pandangan diantara para tokoh ekonom Islam pada dasarnya berakar pada 3 permasalah utama yang diantaranya adalah Pertama Metodologi yang di pakai dalam membangun ekonomi Islam dan sistem ekonomi Islam. Kedua Perbedaan tafsir konsep ekonomi yang ditemukan dalam al-Qur’an seperti istilah khilafah dan implikasi kepemilikan. Ketiga penafsiran yang berbeda terhadap bangunan sistem ekonomi.
Keberadaan ekonomi Islam tidak lain bertujuan mewujudkan kebahagiaan dan kesejahteraan manusia di dunia dan akhirat. Tujuan tersebut dalam pandangan para ahli dijabarkan dalam 3 permasalah pokok yang terdiri atas pertama mewujudkan pertumbuhan ekonomi dalam Negara, kedua mewujudkan kesejahteraan manusia dan ketiga mewujudkan mekanisme distribusi kekayaan yang adil.

DAFTAR PUSTAKA

Suherman Rosyidi, Pengantar Teori ekonomi : Pendekatan kepada Teori Ekonomi Mikro dan Makro, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1998

Mohamed Aslam Haneaf, Cotemporery Islamic Economic Thought: A Selected Comparative Analysis, Terj. Suherman Rosydi, Surabaya: Airlangga University Press, 2006.

Adiwarman Karim, Ekonomi Mikro Islam, Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2007

Rafiq Yunan al-Misri, Ushulul Iqtishad Al-Islamiyah, Beirut: Dar al-Qalam, tt

Heri Sudarsono, Konsep Ekonomi Islam: Suatu Pengantar Yogyakarta: EKONSIA, 2002

Rustam Efendi, Produksi Dalam Islam, Yogyakarta: Megistra Insania Press, 2003

M. Umer Chapra, Negara Sejahterah Islam Dan Perannya Di Bidang Ekonomi, dalam Etika Ekonomi Politik:Elemen-Elemen Strategis Pembangunan Masyarakat Islam, edt. Ainur R. Sophian, Surabaya: Risalah Gusti, 1997

M. Umer Chapra, Islam Dan Tantangan Ekonomi: Islamisasi Ekonomi Kontemporer, Terj. Nur Hadi Ihsan , Surabaya: Risalah Gusti, 1999

Taqiyuddin an-Nabhani, al-Nidzami al-Iqtishadi fi al-Islam, Beirut: Dar al-Ummah, 1990

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s