TUJUAN EKONOMI ISLAM


TUJUAN EKONOMI ISLAM
Oleh: Muhammad Hambali, SHI

Dalam prespektif ekonomi Islam, perlindungan terhadap keberadaan photo__11harta adalah salah satu tujuan umum hukum Islam. Perlindungan terhadap keberadaan harta di dalam hukum Islam masuk dalam bingkai ilmu ekonomi Islam. Bisa dikatakan bahwa tujuan-tujuannnya yang terpenting adalah:
PERTAMA, tujuan pengembangan.
KEDUA, tujuan berproduksi dan menambah pemasukan negara.
Tujuan-tujuan lain yang merupakan turunan tujuan yang tersebut di atas adalah sebagai berikut:
a. Tujuan Syari’ (Allah dan Rasulnya) dalam mewajibkan kerja.
b. Tujuan syari’ terkait dengan pengembangan harta.
KETIGA, tujuan syari’ terkait dengan kebebasan pemutaran harta.
Terkait dengan tujuan umum yang tersebut di atas, ada beberapa tujuan turunan sebagai berikut:
a. Tujuan kebebasan pemutaran harta di antara orang kaya dan orang miskin.
b. Tujuan kebebasan pemutaran harta antar generasi
c. Tujuan kebebasan pemutaran unsur-unsur produksi: harta dan kerja.
d. Tujuan kebebasan pertukaran barang dan jasa di pasar lokal dan nasional.
e. Tujuan kebebasan pertukaran mata uang di pasar uang da modal.
KEEMPAT, tujuan keadilan dalam perputaran harta.
Dari tujuan umum di atas, ada beberapa tujuan turunan sebagai berikut:
a. Tujuan syari’ terkait dengan keadilan pendistribusian unsure-unsur produksi.
b. Tujuan syari’terkait dengan keadilan pertukaran barang dan jasa.
c. Tujuan syari’ erkait dengan penetapan nilai mata uang.
PERTAMA: tujuan pengembangan (tanmiah:’imarah)
Penertian pengembangan dalam perspektif ekonomi Islam.
Pengertian pengembangan dalam Islam dimulai dari asumsi bahwa semua sumber daya alam baik d langit dan dibumi ditundukkan untuk melayani manusia. tanggungjawab manusia terkait dengan penguasaan sumber daya alam adalah dengan kerja yang tujuannya adalah membebaskan masyarakat baik individu atau kelompok dari tekanan kebutuhan ekonomi. Individu dalam masyrakat harus terjamin kebutuhan dasarnya dengan layak supaya terus terjadi harmoni dan kestabilan dalam masyarakat

Hal itu akan terwujud dengan melalui hasil kerjanya atau dengan dukungan lembaga-lembaga kemasyarakatan jika terjadi ketidak seimbangan antara kemampuan kerja dengan pendapatannya. Tanggungjawab seperti ini pada saat yang sama akan membantu negara dalam mewujudkan kestabilan dan keamanan baik di dalam dan luar negeri dalam arti yang luas yang meliputi kestabilan ekonomi, politik, dan sosial. Karena Allah berfirman:

” dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya”

Perkembangan dalam pengertian seperti ini bersifat dinamis, maksudnya adalah bahwa terkait dengan semakin meningkatnya pengusaan terhadap sumber daya alam yang tersedia dan cara pemanfaatannya, keberlanjutan perkembangan tersebut penting bagi manusia untuk merealisasikan peningkatan pendapatan dan kemampuan ekonomi dan hal itu akan menjaga posisi masyarakat Islam baik di dalam maupun luar negeri sebagai contoh dan teladan. Karena Allah berfirman:
” kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia”,

Arah tujuan masyarkat di sini tidak keluar dari bingkai tujuan agama. Ini adalah perpaduan yang sempurna antara tujuan yang bersifat ukhrawi dan duniawi selama hal itu dalam bingkai kerja yang diizinkan oleh syariat Islam.
Karena itulah para pemikir Islam menggunakan istilah “masyarakat bertakwa” sebagai ganti dari istilah “masyarakat makmur” dimana pemenuhan kebutuhan terhadap materi yang semakin meningkat dicapai tanpa dengan merusak dimensi spiritual dan keseimbangan manusia yang merupakan tolok ukur kebahagiaan dunia. Ungkapan ini bukanlah hal baru, tetapi ini adalah pengertian masarakat bertakwa yang diungkapan oleh Imam Ali bin Abi Talib ra saat memberi pidato penugasan kepada gubenurnya di Mesir. Dia memerintahkan agar isi pidato tersebut disampaikan kepada penduduk mesir dan dilaksanakan isinya.

Dia mengatakan: wahai para hamba Allah, sesungguhnya orang-orang bertakwa mendapatkan kebaikan yang disegerakan dan yang diundurkan. Bekerjasamalah dengan pemilik harta duniawi dalam hal duniawi, dan jangan bekerja sama dengan mereka dalam urusan akhirat. Allah membolehkan hal-hal duniawi untuk mereka sesuai dengan kebutuhan mereka. Mereka merasakan kenikmatan duniawi bersama pemilik harta duniawi, dan kelak mereka akan menjadi orang-orang terdekat Allah. Mereka mengharap sesuatu dari-Nya dan Allah memberikan apa yang mereka harapkan. Doa mereka tidak ditolak, dan kesenangan mereka tidak terkurangi. Wahai para hamba Allah, orang-orang yang cerdars menginginkan hal ini, dan mereka melakukannya dengan berdasarkan takwa kepada Allah….
Perintah dalam pidato tersebut bukan hanya sekedar penjelasan belaka, tetapi merupakan penugasan kepada gubenur untuk melaksanakan dan merealisasikan apa yan terkandung di dalamnya.
Pengertian ‘imarah, yang merupakan istilah an sering dipakai di dalam kitab-kitab fikih adalah sinonim kata tanmiyah. Pengertiannya tidak hanya terbatas pada peningkatan produksi atau tingkat pendapatan komunitas saja.

Istilah ‘imarah menggambarkan keadilan distributif pendapatan hasil produksi. Ini adalah satu bagian pengertian yang tidak dapat dibagi-bagi. Merealisasikan keadilan tidak bisa hanya mengandalkan niat baik tiap-tiap individu-meskipun itu juga penting-tetapi ini merupakan tanggungjawab negara yang wajib dilakukan oleh pemerintah sesuai dengan kebaikan bersama. Hal itu wajib dilakukan oleh semua bagian masyarakat Islam dan tidak hanya terbatas pada orang Islam saja.

Karena rakyat ada dua macam, saudara seagama atau sesama makhluk…maafkanlah mereka sebagaimana engkau mengharap Allah memberi maaf kepadamu. Lakukanlah kerjasama yang wajib sesuai dengan kadarnya setelah melaksanakan kewajiban atas pemerintah yang telah di tetapkan di dalam nas yang jelas, yaitu bahwa ” orang miskin lapar sebab (jatahnya) dinikmati oleh orang kaya”.
Bingkai dan tujuan kerja pengembangan dalam Islam adalah sebagai berikut:
– Mencapai ‘masyarakat yang kuat’ yang memiliki unsur-unsur kekuatan ekonomi, peradaban, dan militer yang harus dimiliki untuk menjaga stabilitas masyarakat tersebut.
– Masyaraat yang kuat adala masyarakat yang makmur yang menjamin meningkatnya produksi dalam ari yang luas yaitu keadilan distributif yang menuntut terwujudnya pemenuhan kebutuhan tiap individu dalam masyarakat.
– Merealisasikan keseimbangan pada angota-anggota masyarakat adalah sebuah konsekwensi logis dimana pemenuhan kebutuhan materi bagi tiap individu adalah tanggung jawab masyarakat yang merupakan timbal balik tanggung jawab individu tersebut kepada masyarakat.
– Selain itu, ada perasaan bahagia dan puas karena terlaksananya kewajiban agama dan mengaitkan tujuan kehidupan akhirat yang kekal dengan kehidupan dunia.
– Tercapainya perkembangan dan kontinuitasnya, dianggap sebagai kewajiban agama yang wajib direalisasikan oleh individu, masyarakat dan negara. Ia tidak dianggap sebagai sebuah pilihan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.

KEDUA : tujuan produksi dan peningkatan produksi warga negara.
Prinsip utama hubungan manusia dan sumberdaya alam adalah pendayagunaannya. Ini adalah tanggung jawab individu dan negara, baik itu berupa sumber daya harta atau berupa sumber daya alam, atau kemampuan kerja dimana dirinya seperti unsur produksi yang lain. Terkait dengan keinginan untuk meningkatkan tingkat pendayagunaan dan produksi sumber daya alam yang sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, ada banyak penafsiran strategis yang telah dibuat oleh para pemimpin Islam dan para ulama terdahulu yang disandarkan secara langsung kepada al-Qur’an dan sunnah Rasul.

Manusia adalah pusat kegiatan dan tujuannya. Kerja, di antara unsur produksi yang lain merupakan unsur yang paling dominan. Unsur-unsur yang lain seperti modal dan sumber daya alam hanyalah unsur penopang yang memiliki dampak sesuai dengan kontribusinya. Karena itulah unsur pelengkap ini tidaklah harus ada dalam meningkatkan pendapatan dan penghidupan. Jadi, perhatian terhadap pengembangan sumber daya manusia-seperti kemampuan berproduksi-merupakan faktor yang penting dalam pendistribusian hasil produksi dan memiliki posisi yang jelas dalam kerja pada setiap keadaan.

Sebagai contoh, fikih Islam membolehkan perkongsian antara kerja, sebagai salah satu unsur produksi, dan modal, sebagai unsur produksi yang lain, serta pembagian hasil produksi diantara keduanya. Pada saat terjadi kerugian, maka kerugian hanya ditanggung oleh pemilik modal selama tidak ada kelalaian atau buruknya kinerja orang yang berkongsi dengan kerja. Demikian pula penipuan atau kecurangan yang dilakukan oleh seorang pekerja mendapat kecaman dari Rasulullah SAW.

Model Kerja-kerja yang buruk menyebabkan hilangnya kreatifitas yang dimiliki oleh pekerja, yang mana semua anggota masyarakat harus menangkal hal ini. ini bukan hanya perintah islam untuk melindungi hak pekerja saja, bahkan itu adalah kezaliman yang dampaknya tidak hanya terbatas hanya pada orang yang dizalimi tetapi juga meluas kepada peradaban itu sendiri sebagaimana diungkapkan oleh Ibnu Khaldun di dalam Muqaddimahnya

Produksi dalam Islam memiliki cakupan yang luas sehingga mencakup pemenuhan segala kebutuhan komunitas. Berperan serta dalam hal itu merupakan fardlu kifayah bagi setiap orang yang mampu. Para intelektual muslim sepakat bahwa melaksanakan kerja dalam semua bidang yang memberi manfaat dan kebaikan adalah fardlu kifayah. Jika semua anggota masyarakat meninggalkannya, maka sebagai akibatnya mereka akan mendapatkan hukuman dari Allah.

Hal-hal yang hukum Fardlu kifayah dalam Islam tidak kalah pentingnya dengan hal-hal yang hukumnya fardlu ‘ain. Bahkan terkadang dampaknya lebih tampak dalam kehidupan umat Islam. Jika ad seseorang melaksanakan fadlu kifayah maka hal itu merupakan fardlu ain baginya. Jika tidak ada yang mampu melaksanakan produksi selain negara, maka pelaksanaannya adalah fardlu ain bagi negara.

Gagasan tentang fadlu kifayah ini sangat penting, agar umat ini menjadi mandiri dan tidak hanya mengekor. Sehingga misi utamanya untuk menjadi saksi bagi umat lain dapat terwujud sebagaimana yang diinginkan. Karena Allah SWT berfirman:
” dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu”.

Setiap muslim bertanggungjawab untuk ambil bagian dalam mewujudkan kemandirian ini dan menghapuskan sifat mengekor. “Engkau bagiku bagai perintis dalam Islam, jangan berikan hal itu kepada orang sebelum kamu”. sifat mengekor dapat menimbulkan lemahnya produksi dalam bidang-bidang penting. Hal itu dapat merusak posisi menjadi saksi di antara umat manusia serta menyebabkan setiap individu untuk tidak ambil bagian dengan hal-hal yang bersifat fardlu kifayah.

karena itu Islam mengajak untuk senantiasa berproduksi selama hidup. Karena Nabi bersabda, “ketika kiamat hampir tiba dan di tangan salah seorang di antara kalian ada benih tanaman dan dia mampu menanamnya, maka hendaklah dia menanamnya”. Nabi juga bersabda,”pada hari kiamat tidak ada satu langkahpun dari seorang hamba melainkan ditanyai tentang empat perkara, tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang masa mudanya untuk apa digunakan, tentang hartanya, dari mana dia memperolehnya dan untuk apa dibelanjakan, tentang ilmunya, apa yang dilakukan dengannya.

Demikianlah, kita melihat bahwa produksi dalam Islam adalah menggunakan kpotensi manusia dan sumber daya materi untuk memenuhi kebutuhan bersama. Ia juga merupakan ibadah kepada Allah SWT, dan melaksanakan kewajiban membangun masyarakat berdasarkan misi dari Allah. Kita melihat penyandaran pembangunan kepada Allah adalah salah satu rukun pembangunan dalam Islam.

Ketika menyerukan untuk meningkatkan hasil produksi dengan kerja yang terus-menerus pada satu sisi dan melakukan rasionalisasi semua kegiatan yang bersifat konsumtif pada sisi lain, Islam juga meletakkan dasar yang digunakan untuk menyimpan harta yang melebihi kebutuhan. Demikian pula selain mendorong untuk menyimpan harta, Islam juga melarang untuk menimbun-nimbun harta.
Tujuan produksi dan penambahan hasil produksi warga negara merupakan tujuan umum dan kebaikan umum, yang muncul dan banyak nas (al-Qur’an dan Hadits) dan proses penalaran induksi. Dari sini muncul beberapa maksud turunan berikut:
a. tujuan syari’ dalam mewajibkan kerja.
tujuan syari’at dalam mewajibkan kerja dan berproduksi tidak hanya diambil dari sau nas atau satu dalil tertentu saja. Bahkan inti dari tujuan syari’at diambil dari banyak nas dan dalil yang semuanya memiliki maksud yang pasti.
– al-Qur’an
Allah telah memerintahkan hamba-hambanya untuk berjalan keseluruh penjuru bumi, dan menjadikannya sebagai suatu sebab untuk mencari rizki dan mencari makan. Dia berfirman:
“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya.
Allah juga memerintahkan mereka untu menyebar dibumi untuk mendapatkan karunianya”. Dia berfirman:
”apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah”.
– sunnah Rasul
• Nabi SAW bersabda,”tidak ada yang lebih baik dari pada seseorang yang makan dengan hasil usahanya sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Allah, Dawud makan dari hasil usahanya sendiri”.
• Sungguh jika salah seorang di antara kalian membawa tali kemudiaN dia mengangkut seikat kayu bakat dipunggungnya, kemudian dia menjualnya, itu lebih baik dari pada meminta-minta kepada manusia, kemudian mereka memberinya atau menolaknya.”
• Nabi bersabda “shadaqah tidak halal bagi orang yang kaya atau mampu bekerja”
– Perkataan sahabat.
Umar bin Khattab berkata:” janganlah ada di antara kalian yang hanya duduk berangku tangan dari mencari rizki, seraya berkata,”Ya Allah berilah aku rizki”, sedangkan dia tahu bahwa langit tidak akan menurunkan hujan emas dan perak”.

Masih banyak lagi pernyataan yang pada intinya menunjukkan kewajiban bekerja untuk mencari rizki. Dan bahwa bekerja adalah ibadah dan ketaatan dan bahwa duduk berpangku tangan adalah suatu kemaksiatan . nabi saw bersabda:
“tidaklah seorang muslim menanam suatu tanaman kemudian manusia, hewan ternah atau burung maka darinya, melainkan hal itu menjadi sedekah baginya”.
Selain itu bekerja dan mencari nafkah adalah penting untuk melindungi keberadaan harta harta, mendapatkan manfaat, atau ‘ perlindungan positif ‘ karena tanpa kerja tidak akan ada harta.

b. TUJUAN RASIONALISASI KONSUMSI
pemborosan dan penimbunan harta hukumnya dilarang. Pemikir Islam mendefinisikan pemborosan dengan membelanjakan harta untuk hal-hal yang tidak halal, atau sesuatu yang halal tetapi melebihi atas kewajaran dan begitu juga menyia-nyiaan harta dan menggunakannya dengan cara yang salah.
Penggunaan harta sesedikit apapun akan dianggap pemborosan jika tidak pada hal-hal yang dibolehkan oleh Islam, demikian pula membelanjakan harta untuk hal-hal yang halal tetapi melebihi kebutuhan juga dianggap pemborosan. Allah berfirman:
” Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di Setiap (memasuki) mesjid, Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”.

Kaidah dasar dalam Islam adalah batasan-baasan yang telah dtetapkan oleh Allah dengan firmannya:
“dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian”

Islam mengharamkan pemborosan dan berlebih-lebihan, maka Islam mengaharamkan bermewah-mewahan. Contohnya seperti cara membelanjakan harta oleh orang yang tidak cerdas. Karena itulah Islam membolehkan wali untuk ikut campur dalam menahan harta orang yang dungu, yaitu orang yang tidak mampu mengelola hartanya dengan baik dan mengikuti hasratnya saja.
“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan.”

Tujuan rasionalisasi konsumsi adalah tujuan umum dan pasti (dari nas al-Qur’an dan sunnah), demikian pula penalaran induksi terhadap peristiwa dan fakta mendukung hal itu.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s