FUNGSI ILMU, AKAL DAN WAHYU SEBAGAI CITRA DIRI INTELEKTUAL MUSLIM


 FUNGSI ILMU, AKAL DAN WAHYU SEBAGAI CITRA DIRI INTELEKTUAL MUSLIM

 

 

Manusia sebagai makhluk yang paling sempurna diciptakan Allah mempunyai banyak kelebihan jika dibandingkan dengan mahkluk-mahkluk ciptaan Allah yang lainnya. Bukti otentik dari kebenaran bahwa manusia merupakan makhluk yang paling sempurna di antara mahkluk yang lain adalah ayat al-Quran surat At-Tin ayat 4 sebagai berikut:

Artinya:  “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (QS. At-Tiin:4)

Satu hal  yang membuat manusia lebih baik dari mahkluk yang lain yaitu manusia mampu berpikir dengan akalnya, karena manusia dianugerahi oleh Allah dengan akal sehingga dengannya manusia mampu memilih, mempertimbangkan, menentukan jalan pikirannya sendiri. Agama Islam sangat menjunjung tinggi kedudukan akal. Dengan  akal manusia mampu memahami al-Qur’an sebagai wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, dengan akal juga manusia mampu menelaah kembali sejarah Islam dari masa lampau.

Menurut Harun Nasution, sejarah puncak kejayaan intelektual umat Islam terjadi pada periode klasik sekitar 650-1250 M. Hal tersebut ditandai oleh banyaknya ulama’-ulama yang lahir dan berkembang pada zaman ini. Dalam bidang hukum seperti Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad Ibn Hambal. Dalam bidang teologi seperti Wasil Ibn Ata’, Abu Huzail, al-Nazam dan al-Jubba’i. Dalam bidang tasawuf seperti Zunun al-Misri, Abu yazid Al-Bustami dan al-Hallaj. Dalam bidang filsafat seperti al-kindi, al-Farabi, Ibn Sina dan Ibn Maskawaih. Ataupun dalam bidang saint seperti Ibnu hayyan, Al-Khawarizmi, al-Mas’udi dan al-Razi

 

A.  POSISI ORANG BERILMU

Dalam al-Qur’an dengan jelas Allah SWT  menjelaskan bahwa tidaklah sama antara orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu. Salah satu ayat yang menyataka hal tersebut adalah terdapat dalam S. Az-Zummar : 9 yang penggalannya berbunyi :

Artinya: ”…Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS. Az-Zummar: 9)

Dari ayat itu, wajar jika kemudian kita temukan banyak Hadist yang berisi perintah untuk manuntut ilmu. Lebih dari itu bagi Islam menuntut Ilmu adalah satu kewajian pokok yang harus dilakukan oleh umat, baik bagi laki-laki maupun perempuan

  Posisi orang yang berilmu dalam pandangan Islam dengan jelas digambarkan Allah SWT dalam al-Qur’an Surat al-Mujadalah :11 yang berbunyi :

Artinya : ”…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”  (QS. al-Mujadalah :11)

Dalam sebuah hadist rasulullah SAW bersabda :

man arada dunya falaihi bil ilmi, wa man arada akhirah fa alaihi bi ilmi wa man aradahuma fa alaihima bi ilmi

Ayat dan hadis tersebut mengindikasikan bahwa untuk dapat hidup bahagia di dunia dan akhirat tidak lain dan tidak bukan kata kuncinya adalah dengan ilmu. Atas dasar itu dalam konsepsi Islam keberadaan orang berilmu sangat dimulyakan, sampai-sampai tidurnya orang alim (berilmu) adalah bernilai Ibadah.

B.  AKAL DAN WAHYU DALAM ISLAM

Menurut Muhammad Abduh, Islam memandang akal mempunyai kedudukan tinggi. Allah menunjukkan perintah dan larangannya kepada akal. Di al-Qur’an terdapat ayat-ayat afala yatadabbarun, afala yanduruun  afala yaqilun yang memerintahkan pada manusia untuk berfikir. Oleh sebab itu Islam adalah agama yang rasional. Mempergunakan akal adalah salah satu dari dasar-dasar Islam.

Akal adalah anugerah yang diberikan Allah SWT yang mempunyai kemampuan untuk berpikir, memahami, merenungkan, dan memutuskan. Akal juga yang membedakan manusia dengan makhluk ciptaan Allah lainnya. Sedangkan wahyu adalah firman Allah kepada orang yang menjadi pilihannya (nabi dan rasul) untuk diteruskan kepada umat manusia sebagai pegangan dan panduan hidupnya agar dalam perjalanan hidupnya senantiasa pada jalur yang benar

Dalam khasanan intelektual umat Islam, Akal dan wahyu mempunyai peran yang sangat penting dalam perjalanan hidup manusia. Keduanya merupakan sumber utama dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.

Lebih lanjut jika kita uraikan wahyu sendiri dapat kita klasifikasikan menjadi dua, yakni wahyu Qauliyah dan wahyu Kauniyah.

Dalam perkembangannya penggunaan akal dalam memahami teks ajaran agama yang tertuang dalam al-Qur’an dan hadist selanjutnya melahirkan  corak pemikiran keagamaan yang ditampilkan suatu tokoh/aliran keagamaan. Bagi kelompok yang memberikan peran akal lebih besar dalam mengintepretasi teks keagamaan maka model yang demikian tampil dengan corak rasional. Sebaliknya, bagi  yang memberikan peran akal lebih kecil dan lebih cenderung pada teks keagamaan, maka kelompok yang demikian dikenal dengan corak tradisional.

Pada masa pemikiran Islam klasik, model keagaamaan yang cenderung pada penggunaan akal dapat kita lihat dalam corak pemikiran aliran Mu’tazilah, sebaliknya model yang kedua dapat kita temukan pada pemikiran Ahlusunah terkhusus pada pemikiran Imam Ahmad dan Imam Maliki. Perhatian dan polemik pemikiran yang berhubungan dengan akal dan wahyu tidak hanya melanda pemikiran Islam klasik. Dalam konteks kekinian, lahirnya gerakan pembaharuan di Mesir lewat Muhammad Abduh, di Turki lewat Mustafa Kemal, di India lewat M. Iqbal dan di Indonesia sendiri dapat dijumpai masalah tersebut pada  pemikiran Harun Nasution atau lewat gerakan Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdallah.

Dalam prespektif teologi keberadaan akal dan wahyu mendapatkan perhatian yang serius dari kalangan umat Islam. Hal tersebut ditandai oleh kuatnya pertentangan yang terjadi pada sebagian aliran teologi dalam Islam seperti Mu’tazilah dan Ahlussunah. Menurut Mu’tazilah dengan Akal, manusia dapat mengetahui akan adanya Tuhan sekalipun tanpa bantuan Wahyu. Adapun fungsi wahyu adalah sebagai konfirmasi dan informasi atas apa yang telah diketahui oleh akal. Sedangkan menurut Ahlussunah khusus pada firqah Asy’ariah menyatakan bahwa betul manusia dengan akalnya dapat mengetahui adanya Tuhan, namun untuk mengetahui tata cara menyembahnya (beribadah) diperlukan Wahyu.

Dari dua pandangan aliran teologi di atas jika dibuat perbandingan keduanya mengenai fungsi akal dan wahyu adalah nampak dalam bagan berikut ini :

Aliran Fungsi Akal Fungsi Wahyu
Mu’tazilah
  1. Mengetahui adanya Tuhan
  2. Kewajiban Mengetahui Tuhan
  3. Mengetahui Baik dan buruk
  4. Kewajiban mengerjakan yang baik dan meninggalkan yang buruk
Hanya sebagai alat untuk konfirmasi dan informasi atas apa yang di dapat melaui akal
Asy’ariah Untuk mengetahui adanya Tuhan (MT)
  1. Kewajiban mengetahui adanya Tuhan (KMT)
  2. Mengetahui baik Dan buruk (MBB)
  3. Kewajiban mengerjakan yang baik dan meninggalkan yang buruk (KMBB)
Maturidiah

  • Samarkand
  • Bukhara
  1. MT
  2. KMT
  3. MBB
  1. MT
  2. MBB
KMBB

KMT

KMBB

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s