PERTANIAN DAN KEMISKINAN

PERTANIAN DAN KEMISKINAN
oleh :Prof. Dr. Ir. Sajogyo

I.

Iwan Gardono S. (2001), sosiolog dari UI, Depok, menganjurkan di dalam reformasi konstitusi (UUD) Indonesia, kita lebih memperhatikan kondisi sosiologis dan empirik, tak membatasi diri pada aspek normatif dan legal. Perhatian khusus mesti diberikan pada berbagai kelompok vertikal (“multi strata”) (petani, nelayan, buruh, sektor informal, masyarakat adat). Menetapkan substansi konstitusi baru yang lebih “populis” itu akan membuka peluang kita dapat menghasilkan “bangunan sosial” yang lebih adil dan tangguh.

Tidak terbahasnya “ke-bhineka-an” Indonesia, terutama aspek vertikalnya dalam konstitusi mengakibatkan terlupakannya dan tertinggalnya massa “poros bawah” yang merupakan kelompok mayoritas. Demikian pula dalam upaya kita mendalami “ekonomi rakyat” sejak awal perlu kita mengenal “siapa rakyat itu”?. Berikut ini adalah Tabel Persentase Penduduk menurut Golongan Rumah Tangga (tahun 1975 dan 1993) yang diacu oleh Iwan Gardono dari sumber BPS (Tabel 1).

Secara “kasar” data 1975 dibanding 1993 (satuan rumah tangga) menunjukkan jumlah petani turun dari 48% ke 30% rmt, buruh tani turun sedikit saja (dari 12% ke 10%) sebaliknya bukan-petani di desa naik dari 18% ke 22% dimana jumlah golongan atas diantara bukan-petani menjadi lebih besar dari bukan-petani golongan rendah.

Di lingkungan kota, golongan bukan-petani juga meningkat dari 15% menjadi 24%. Dalam hal golongan bukan angkatan kerja (penerima bantuan) jumlah itu turun di desa, tapi naik di kota (masing-masing di bawah 3%). (Perlu dicatat: angka % rumah tangga terhadap jumlah rumah tangga, desa plus kota, total penduduk)

Thorbecke (1993) memberi tafsiran data Sistem Neraca Sosial-Ekonomi itu dalam rangka terjadinya penyesuaian struktural. Di dalam proses pembangunan titik berat beralih dari pertanian ke sektor industri dan jasa-jasa (di Indonesia lebih tepat: jasa-jasa lebih dulu). Peralihan itu dimungkinkan surplus pertanian yang terjadi. Pengalihan tenaga kerja pertanian ke sektor “informal” (di kota) terjadi berupa migrasi musiman (dari desa ke wilayah dekat, desa lain atau kota kecil) atau migrasi permanen. Gejala gerak tenaga kerja ini mencakup proses migrasi antar-sektor : hal yang positif.

Proses itu telah mengurangi tingkat kemiskinan, baik di desa maupun di kota, baik sebelum 1982 (waktu kebijakan beralih ke tahap “penyesuaian struktural”) maupun sesudah itu, dan dialami oleh lapisan rumah tangga tak berlahan, atau hampir-tak-bertanah dan petani gurem. Diakui oleh Thorbecke bahwa mungkin saja dalam proses itu terjadi juga peningkatan polarisasi (antar lapisan).

Dalam kasus di Jawa, migrasi keluar (netto) dari pertanian telah terjadi disertai kenaikan jumlah hari (jam) kerja per orang, dimana pendapatan meningkat karena curahan tenaga yang meningkat, bukan oleh kenaikan upah. Jelas waktu itu bahwa di Jawa kapasitas serap tenaga kerja di pertanian sudah terbatas sekali, maka peluang lain dicari di luar pertanian.

Suatu proses penyesuaian dalam luas usahatani terjadi yang membuat usahatani lebih mampu bertahan dan berkelanjutan, dimana terjadi dorongan (“push”) maupun tarikan (“pull”). Peluang kerja bagi tenaga kerja golongan tak-berlahan dan petani gurem di desa terdapat di jalur transmigrasi (dari Jawa ke lain daerah) dan di lapang di luar pertanian yang makin luas berkembang di masa akhir 1980-an. Hal ini berarti dampak daya tarik (“pull”) ke luar pertanian makin kuat di masa itu.

II.

Studi Dinamika Pedesaan (Proyek Survey Agro-Ekonomi, Departemen Pertanian) menghasilkan analisa satu kasus, wilayah utama padi sawah di Jawa dan Sulawesi Selatan : cakupan masa 1979-1980, di desa-desa sampel yang sudah dikenal SAE sejak tahun 1969. Kasryno penyunting buku “Prospek Pembangunan Ekonomi Pedesaan Indonesia” (Yayasan Obor Indonesia, 1984), juga penulis 3 bab di buku itu mendalami ekonomi kelembagaan, khususnya penguasaan tanah, kesempatan kerja (dalam usaha tani dan di luar pertanian) dan perkreditan desa, peranan teknologi, dan tingkat pendapatan dan pengeluaran rumah tangga.

Secara ringkas, 7 bab yang berisi analisa perkembangan ekonomi pedesaan di Jawa dan Sulawesi Selatan, wilayah utama padi sawah yang telah memasuki “revolusi hijau”, menyimpulkan dalam hal :

a.) Kelembagaan penguasaan tanah : telah terjadi “differensiasi kelas” petani. Dengan menyisihkan peluang reformasi agraria (sikon masa itu) peluang kerja makin banyak ditemukan di luar pertanian. Ada juga usulan hal “tenancy reform” mengingat ketentuan UU Bagi Hasil tak diikuti di desa-desa itu.

b.) Penyerapan tenaga kerja dikaitkan tingkat upah, teknologi unggul bias pada pemilik tanah dan penggarap (persentase bagian untuk tenaga kerja bayaran menurun : dari 38% ke 28% nilai tambah). Peningkatan produktivitas tanah itu mendorong perluasan kepemilikan tanah. Perluasan kepemilikan tanah memperkecil peluang tenaga kerja, peningkatan produktivitas tanah sawah dan harga gabah yang lebih tinggi lebih meningkatkan penyerapan tenaga kerja. Kenaikan upah pertanian didorong naiknya upah di luar pertanian. Perbaikan peluang kerja dan pendapatan ditemukan di luar pertanian dan dari pekerjaan berburuh tani pada golongan tanpa-tanah.

c.) Perkembangan teknologi mekanisasi di Jawa : pemakaian bibit unggul (padi) dan pupuk pabrik mendorong peningkatan permintaan tenaga kerja di desa. Mekanisasi terutama terjadi pada proses pengolahan gabah menjadi beras (mesin “huller”), sedangkan masuknya traktor pengolah tanah masih terbatas.

d.) Penyerapan tenaga kerja luar pertanian di desa : industri rumah tangga memerlukan proses lama; dimulai dari pengalaman berburuh, berdagang, barulah meningkat menjadi pengusaha. Pembinaan usaha industri rumah tangga bisa merupakan pendidikan untuk menjadi pengusaha.

e.) Perkreditan pertanian di desa : dalam masa 1972-1981, kredit perbankan untuk pertanian se-Indonesia tumbuh 28% per tahun. Namun porsi nilai kredit pertanian menurun, beralih ke bidang-bidang dagang, industri, dan jasa. Sistem perbankan belum sesuai kebutuhan masyarakat desa. Di desa-desa sampel baru 15% rumah tangga yang terlibat dalam kredit formal, sedangkan 19% lainnya dari kredit informal. Sejumah saran : perbaikan sistem informasi, memperkenalkan bentuk-bentuk baru kredit untuk golongan ekonomi lemah yang sesuai kebutuhan modal usaha rumah tangga.

f.) Hal pola pengeluaran rumah tangga desa dan pemilikan modal bukan-tanah : saran pelatihan bagi rumah tangga miskin agar lebih terampil dan “berjiwa wiraswasta”. Saran lain agar arus informasi dalam hal “konsumsi mewah” dihambat (mengingat dampaknya di desa).

g.) Analisa data pendapatan rumah tangga di desa-desa wilayah utama padi sawah itu (1981) mengacu pelapisan yang menunjukkan keragaman sumber nafkah rumah tangga (beda dari data BPS) dan disertai data penguasaan tanah (38% tak-bertanah) (Tabel 2). Memakai ukuran garis kemiskinan (ekuivalen nilai jual beras 240 kg/orang/tahun) buruh tani, rumah tangga dan petani gurem (kurang 0,5 ha) tergolong “miskin” (54%, tiga lapisan). Di antara yang miskin itu sumber pendapatan dari usaha luar pertanian cenderung meningkatkan pendapatan.

Gambar 1 (sumber : Sinaga /White, 1979) mencoba menunjukkan pengaruh luas dan distribusi penguasaan tanah serta ragam sumber nafkah atas distribusi pendapatan. Segitiga berwarna abu-abu menunjukkan distribusi luas tanah di antara petani, dimana yang tak-bertanah tak termasuk segitiga itu. Di sebelah kanan digambarkan distribusi pendapatan dan sumber-sumber pendapatan, ada yang dari usaha tani “berdasar lahan”, dan dari potensi bukan-lahan (misal : usaha ayam berteknologi “batere”) dan dari usaha di luar pertanian. Gamba 1 ini menunjukkan kasus desa dimana dari tiga sumber pendapatan itu, rumah tangga dengan luas tanah lebih yang selalu unggul. Sebaliknya rumah tangga tanpa-tanah memperoleh pendapatan terkecil, bahkan tergolong rumah tangga defisit bila dibandingkan tingkat pendapatan sebatas “biaya hidup” sebagai patokan. Pada Gambar 1 petani tanah terluas punya pendapatan dari usaha tani yang melebihi biaya hidup.

Bisa kita simpulkan, di pedesaan Jawa di wilayah sawah padi yang padat penduduk, tanpa peluang suatu re-distribusi tanah (reforma agraria) peluang di luar pertanian (sering di luar desa sendiri) yang membuka peluang lebih meningkatkan pendapatan dan mengatasi kemiskinan.

III.

Setelah kita terkena krisis ekonomi (sejak 1997) apa yang dapat dilaporkan mengenai perkembangan pertanian dan kemiskinan? Rujukan terakhir yang komprehensif (walau terbatas menyoroti petani penghasil pangan) adalah makalah Kasryno di Widyakarya Pangan dan Gizi-VII, 2000.

Kami kutip dari ringkasan makalahnya yang berjudul “Menempatkan Pertanian sebagai Basis Ekonomi Indonesia: Memantapkan Ketahanan Pangan dan Mengurangi Kemiskinan”.

——————–

Pembangunan pertanian selama tahun 1970-an dan 1980-an sudah cukup berhasil yang ditunjukkan oleh pertumbuhan PDB sektor pertanian rata-rata 3,2 % per tahun. Swasembada beras dapat dicapai pada tahun 1984, dan telah berhasil memacu pertumbuhan ekonomi pedesaan tahun 1980-an. Swasembada beras ini hanya dapat dipertahankan sampai tahun 1993. Produktivitas padi Indonesia adalah yang tertinggi di Asia Tenggara dan Asia Selatan, upah tenaga kerja pertanian dan harga pupuk terendah di Asia Tenggara, karenanya Indonesia memiliki keunggulan kompetitif beras sebagai substitusi impor. Dengan demikian adalah kurang beralasan secara ekonomis menetapkan harga beras (harga dasar) dalam negeri jauh di atas harga pasar dunia dan menetapkan pajak impor yang berlebihan.

Perlu diingat bahwa 71% petani produsen padi di Jawa adalah petani gurem (mengusahakan lahan <0,5 ha), yang juga sebagai konsumen beras. Proteksi harga beras lebih banyak menguntungkan petani berlahan luas (<30 % petani) dan pedagang beras. Dengan demikian kebijakan harga dasar mungkin sudah tidak diperlukan lagi. Sebetulnya kebijakan yang diperlukan adalah untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi ekonomi pada setiap mata rantai agrobisnis komoditi pertanian. Nilai ekspor hasil pertanian meningkat dengan laju rata-rata 11,5 % per tahun, dan menyumbang nilai ekspor Indonesia sebesar 21,4 % tahun 1996. tingkat kemiskinan pedesaan telah berhasil diturunkan dari 40 % tahun 1976 menjadi 14 % tahun 1990, walaupun masih lebih tinggi dari tingkat kemiskinan di perkotaan yang mencapai 10 % tahun 1990.

Keberhasilan pembangunan pertanian tersebut antara lain disebabkan oleh kebijakan ekonomi makro dan mikro yang sangat mendukung sektor pertanian.1) Alokasi anggaran sektor pertanian yang rata-rata 9,6 % dari total pengeluaran negara ternyata masih lebih tinggi dari rata-rata negara berkembang sebesar 7,5 %. Di samping itu keberhasilan tersebut juga ditopang oleh adanya terobosan teknologi biologi dan kimia (revolusi hijau untuk padi sawah), perluasan areal beririgasi dan lahan pertanian, serta peningkatan kualitas sumberdaya manusia.

1) A. Booth : Agricultural Development in Indonesia, 1988.

Mulai tahun 1984 kebijakan pembangunan ekonomi meninggalkan sektor pertanian, dengan memacu pertumbuhan industri pengolahan, yang penuh ketergantungan pada impor. Di sektor pertanian diversifikasi dilaksanakan dengan mendorong pertumbuhan komoditi ekspor (terutama kelapa sawit, kakao, udang, tuna dan cakalang) dan ayam ras (konsumsi domestik). Kebijakan baru ini ditopang pula oleh kebijakan pembangunan yang bias perkotaan (urban bias development), termasuk kebijakan perdagangan dan nilai tukar yang sangat melindungi sektor industri. Alokasi anggaran untuk sektor pertanian menurun drastis. Pembangunan infrastruktur pedesaan dan di luar Jawa diabaikan demi memacu pembangunan infrastruktur perkotaan dan di Jawa. Pembangunan pertanian sendiri mulai dilepas untuk didominasi oleh perusahaan besar terutama di bidang perkebunan, peternakan dan perikanan, dimana pembangunan pertanian harus melibatkan rakyat berupa PIR dengan ketentuan 60 % areal dimiliki oleh plasma. Pada paket deregulasi tahun 1990-an areal menjadi 100 % bisa dimiliki dan dikuasai oleh perusahaan besar dan malah boleh 100 % modal asing. Kebijakan ini keliru, karena memarjinalisasi hak masyarakat dan menumbuhkan “enclave” kemakmuran warga perusahaan di tengah kemiskinan masyarakat pedesaan.

Selama dekade 1990-an jumlah petani gurem yang mengusahakan lahan <0,5 ha meningkat dengan laju 1,5 % dan jumlah buruh tani meningkat dengan laju hampir 5,0 % per tahun. Di lain pihak, 5 perusahaan perkebunan swasta besar menguasai lebih dari satu juta ha lahan perkebunan. Semua nilai tambah jatuh pada perusahaan besar di Jakarta, sedangkan masyarakat lainnya di daerah hanya menerima UMR dan pemerintah daerah menerima PBB yang sangat rendah. Kebijakan ini merupakan kesalahan strategi pembangunan, yang harus diubah dengan memberikan penguasaan dan pengelolaan sumberdaya domestik pada petani dan masyarakat pedesaan secara berkeadilan. Pertumbuhan pertanian mulai menurun yang mencapai puncaknya ketika impor beras menjadi 6 juta ton tahun 1998 (25 % beras yang ada di pasar dunia) terbesar dalam sejarah.

Dalam krisis ekonomi 1997-1999 pertumbuhan sektor pertanian masih positif dimana ekonomi nasional terjadi kontraksi yang cukup besar. Sektor pertanian dan pedesaan menjadi penyelamat kesempatan kerja dampak krisis ekonomi, disertai dengan menurunnya produktivitas tenaga kerja dan kembali membengkaknya kemiskinan pedesaan menjadi 27 % tahun 1998. Kontribusi sektor pertanian pada pendapatan devisa meningkat dengan drastis. Krisis ekonomi menyadarkan akan berbagai kekeliruan pembangunan ekonomi nasional setelah tahun 1984. Ekonomi nasional harus dibangun dengan memanfaatkan secara optimal sumberdaya domestik (sumberdaya alam dan tenaga kerja) secara berkeadilan. Pembangunan tersebut harus melibatkan secara aktif masyarakat dalam perekonomian (“ekonomi kerakyatan”) disertai desentralisasi manajemen pembangunan.

Indonesia memiliki potensi sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang besar. Kedua potensi ini harus dikombinasikan dengan memberikan hak penguasaan lahan dan sumberdaya alam bagi tenaga kerja yang kualitas dan kemampuan manajemennya ditingkatkan disertai pengembangan teknologi maju. Dengan strategi ini pertanian akan dapat menjadi basis pertumbuhan ekonomi Indonesia masa depan.

Krisis ekonomi juga menumbuhkan kembali keyakinan bahwa sektor pertanian dapat berperan sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi. Untuk itu paradigma pembangunan pertanian harus diubah menjadi peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan petani serta masyarakat pedesaan. Untuk itu perlu dilakukan kebijakan pembangunan pertanian baru antara lain: partisipasi aktif petani dan masyarakat pedesaan disertai pengembangan sumberdaya manusia, peningkatan penguasaan lahan dan aset produktif per tenaga kerja pertanian dan pemerataan jangkauan pada asset produktif pertanian, teknologi, dan pembiayaan, diversifikasi pertanian dalam arti luas (“broad base agricultural diversification”), pengembangan lembaga keuangan pedesaan yang mandiri, pengembangan kelembagaan pertanian dan pedesaan dan pengembangan prasarana pertanian dan pedesaan, dan pengembangan basis sumberdaya pertanian. Kebijakan baru ini perlu didukung dengan pelaksanaan secara konsekuen “land reform” dan “agrarian reforrm”, sehingga lahan pertanian hanya boleh dimiliki oleh petani Indonesia. Untuk paket deregulasi tahun 1993 yang membolehkan penguasaan lahan 100 % oleh perusahaan swasta dan bahkan swasta asing harus ditinjau kembali. Perusahaan swasta dan asing hanya boleh menguasai pabrik pengolahan, dan petani diberi hak untuk dapat membeli saham perusahaan pengolahan untuk membina keterkaitan dan kerja sama. Hanya dengan penerapan kebijakan ini kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat pedesaan dapat ditingkatkan dan harus didukung oleh program jaring pengaman sosial.

Jika merujuk Mubyarto (2000) di penutup Bab 1 buku “Membangun Sistem Ekonomi”, setelah menyoroti “sejarah gagasan ekonomi Indonesia” dibuatnya suatu kesimpulan: paradigma baru pembangunan Indonesia? (tanda tanya!). Kasryno adalah salah seorang yang menggagas ide ke paradigma baru !

Kami kutip alinea terakhir dari Bab 1 buku Mubyarto itu :

“Seharusnya dapat disepakati bahwa peranan pemerintah yang paling tepat adalah kombinasi dari “pengendalian perilaku konglomerat” dan “pengembangan ekonomi rakyat”. Mengembangkan ekonomi rakyat berarti ada upaya-upaya khusus untuk memberdayakan masyarakat, khususnya masyarakat lapisan bawah. Apabila kaitan antara “ekonomi konglomerat” dan ekonomi rakyat dapat di “atur” (atau “disusun”, menurut bunyi pasal 33, UUD 1945) dalam bentuk dan semangat ekonomi kekeluargaan, maka akan terwujudlah sistem Ekonomi Pancasila yang telah menjadi cita-cita ideal bangsa Indonesia sebagaimana terkandung di dalam pembukaan UUD 1945.

IV.

Dari pada mengandai-andaikan apa yang sebaiknya terjadi (tapi tidak terjadi) lebih baik kita bersama berupaya memperoleh pengertian ragam arti “petani” yang pernah dilontarkan oleh berbagai pakar-peneliti antar-benua. Kita belajar dari beragam gagasan masing-masing yang mencoba memahami perilaku petani (bahasa asing “peasant”). Misalnya, apa arti proses modernisasi yang antara lain dicirikan oleh proses: dari “peasant” menjadi “farmer”?

Untuk itu kita ikuti Kurtz (2000) dalam memahami upaya sejumlah pakar mengenali revolusi petani (“peasant revolution”), bermula dari konsepsi ke teori dan kasus kajian. Ditemukan olehnya 4 dimensi pokok yang diacu dalam beragam kombinasi oleh pakar berbeda-beda dalam upaya mendefinisikan arti “peasant”.

Menurut Kurtz, empat dimensi itu adalah:

1) Definisi petani sebagai “pengolah tanah di pedesaan” (“rural cultivators”). Terbanyak pakar peneliti membatasi diri pada satu dimensi ini, mengabaikan lain dimensi. Mereka berpegang kuat pada teori “pilihan rasional” yang juga berlaku bagi “peasant”, tak beda dari pelaku ekonomi lain (contoh: Popkin)

2) Kecuali pada dimensi pertama pakar antropolog cenderung juga mengacu pada dimensi “komunitas petani”, yang bercirikan perilaku budaya yang jelas, membedakannya dari pola budaya “urban” (contoh: Redfield)

3) Pakar pengembang teori “ekonomi moral” masih menambahkan dimensi ketiga yaitu petani yang menghidupi komunitas desa yang tersubordinasi kuat oleh sesuatu kekuasaan luar (contoh: Scott)

4)Pakar pengikut teori Marx mengacu pada 3 dimensi dalam kombinasi berbeda: yaitu “rural cultivators”, komunitas tersubordinasi, dan dimensi penguasaan/pemilikan lahan yang diolah petani (contoh: Wolf)

5) Akhirnya ada pakar yang mengacu pada 4 dimensi sekaligus arti “peasant” itu, mengikuti teladan Weber (contoh: Moore)

Golongan pakar yang hanya mengacu satu dimensi pokok (“rural cultivators”) oleh Kutrz disebut golongan “minimalis”; terbanyak kasus kajian dihasilkan oleh golongan teori “pilihan rasional”. Golongan pakar antropologi merupakan golongan kedua menurut jumlah kasus kajian, di lain pihak pakar yang mengacu Weber kecil sekali jumlahnya.

Membanding alur pikiran 3 pakar yang berbeda definisi hal “peasant”, Kurtz menyajikan ringkasan argumentasi masing-masing:

a) Kasus Scott (ekonomi moral) : struktur masyarakat tradisional menentukan bentuk-bentuk penarikan surplus (petani) yang dapat diterima olehnya. Jika masuknya pasaran atau intervensi negara merobah bentuk-bentuk penarikan surplus itu dengan cara-cara yang membahayakan keamanan pangan kolektif (dari tahun ke tahun) etika subsistensi terlanggar, maka bisa terjadi revolusi.

b) Kasus Popkin (pilihan rasional) : masalah “free-riders” merupakan penghalang utama dalam upaya memobilisasi petani. Masalah itu dapat diatasi dengan baik oleh kombinasi kepemimpinan kolektif yang efektif, insentif perorangan dan penilaian sampai mana janji-janji keuntungan di masa depan itu meyakinkan.

c) Kasus Paige (Marxis) : hasil-hasil revolusioner dan tak-revolusioner adalah produk hubungan kelas-kelas agraria yang berbeda. Secara khusus petani pemilik tanah tak cenderung menghasilkan revolusi, disebabkan oleh ketergantungan petani pada kerja upahan dan golongan elit pada tanah.

Atas dasar perbandingan itu Kurtz menyimpulkan bahwa:

a) Teori “ekonomi moral”, tak berlaku dalam kasus konteks modern atau dimana individualisasi tinggi, juga dimana transisi ke kapitalisme terkonsolidasi, dan dimana struktur komunitas lemah.

b) Teori “pilihan rasional”, tak berlaku dalam kasus dimana perhitungan perorangan secara mudah atas untung-rugi bukan model yang tepat dalam pembuatan keputusan petani, juga dalam hal masalah “free- riders” tak menentukan perilaku kolektif.

c) Teori Marx tak cocok dalam hal struktur kelas agraria kurang terkonsolidasi dan dimana transisi ke kapitalisme berorientasi ekspor belum tuntas.

Dengan singkat Kurtz simpulkan bahwa:

Teori “ekonomi moral” menjelaskan implikasi-implikasi masuknya pasaran dan negara ke dalam komunitas yang pre-kapitalis. Sebaliknya ekonomi politik (Popkin) adalah teori mengenai pelaku-pelaku ekonomi yang bergerak dalam konteks organisasi pasar yang sudah dominan. Dari kesimpulan ini tak ada dasar untuk membantah kesimpulan bahwa pendekatan “ekonomi moral” dan “ekonomi politik” bisa sama-sama benarnya. Masalah kita bersama, dalam tuntutan memperluas sistem “ekonomi politik” bagaimana dapat menjangkau secara efektif dan berkeadilan seluruh masyarakat, termasuk lapisan bawah dan golongan yang belum terjangkau?

Proses itu punya tuntutan mendalam yang bukan saja tertuju pada golongan (apa yang disebut) “belum maju”, melainkan juga (atau terlebih dulu) tuntutan pada pihak-pihak yang mewakili pasaran dan pemerintahan yang biasa tampil bersamaan.

V.

Apakah kita menuju suatu revolusi yang melibatkan petani ataukah mendukung “emansipasi” petani dan golongan lain yang tersisihkan?.

Hal terakhir ini (arti “peminggiran” atau “exclusion”) tercakup dalam arti kemiskinan, begitu pula makna “ketertindasan” (“oppression”) yang tak jauh dari “ketergantungan” atau “subordination”. Tak cukup definisi “miskin” merujuk pendapatan kurang atau pangan kurang (UNDP-PSI, 2000).

Penyebaran bibit padi unggul menghasilkan apa yang disebut “revolusi hijau” dan Indonesia termasuk pendukung penting “cerita sukses” itu. Kecuali oleh dukungan petani kecil yang jumlahnya jutaan, hasil itu juga karena dukungan kebijakan makro pimpinan Orde Baru yang pada awal kebangkitannya mengadakan pilihan yang tepat. Pada awal 1970-an itu cukup dana ditanam/disalurkan dari dana yang diperoleh dari kenaikan harga bahan ekspor minyak bumi secara luar biasa. Dicatat oleh Ann Booth (1988) bahwa di antara negara-negara pengekspor minyak hanya Indonesia yang waktu itu tak lupa melakukan investasi dalam pembangunan pertanian, termasuk membangun industri pupuk kimia.

Peningkatan dalam produksi beras (kg/kapita) pantas disebut “revolusi” karena tercapai dalam masa relatif singkat, yaitu belasan tahun. Apakah telah terjadi “revolusi pertanian” setelah ada pencirian “involusi pertanian” bagi sistem pertanian padi sawah di Jawa oleh Geertz, seorang antropolog (1963), karena menjurus ke “bagi-bagi kemiskinan” di desa ? (Penambahan tenaga kerja karena pertumbuhan penduduk telah diserap dalam subsistem ekonomi padi sawah dan produktivitas per orang tak meningkat lagi).

Sejumlah pakar telah membantah Geertz, berdasarkan hasil kajian atas sejumlah kasus dan sejarah lokal. Namun demikian sebagai pencetus ide “evolusi pertanian” kita dapat belajar dari “teori” itu. Apalagi karena Geertz mengaitkan suatu perbaikan kondisi pertanian di Indonesia pada suatu syarat pokok, yaitu perubahan yang penting dalam visi para pemuka bangsa, dalam memilih corak pembangunan yang memberi harapan lebih.

Jika merujuk ke sumbangan pemikiran Kasryno, dalam hal petani pangan khususnya (Widyakaraya Pangan/Gizi, 2000), isinya tak lain adalah suatu visi baru dalam pembanguan pertanian kita. Ada pula sumbangan pemikiran lainnya, antara lain dari Ketua PERHEPI dimana sebagai Dirjen Bina Perkebunan berpeluang mengembangkan visi mengenai masa depan subsistem agribisnis Indonesia, terutama petani-kebun, penghasil bahan mentah industri yang diekspor.

Masalah kita adalah bagaimana dapat mempengaruhi proses politik yang menentukan dalam mengarahkan pembangunan pertanian (dalam arti luas, yang mencakup usaha perikanan laut dan pengolahan sumberdaya hutan) yang sekaligus mendukung pembangunan pedesaan yang saling dukung dan berkelanjutan ? Karena masalah mengatasi kemiskinan di antara pelaku utama (petani dan buruh tani) kita kaitkan dengan pola pembangunan yang melibatkan peluang luas bagi mereka semua yang masih tertinggal itu, jelas bahwa masalah kemiskinan adalah juga masalah politik. Mengatasi kemiskinan struktural berarti upaya membangun struktur baru !

Mengingat bahwa proses itu memerlukan waktu cukup lama, lebih baik kita pakai istilah “emansipasi” petani/buruh tani, dengan memahami apa sikon dan masalah rakyat banyak itu di berbagai corak wilayah. Geertz, 40 tahun yang lalu membedakan antara “inti-dalam” Indonesia (pola sawah irigasi di Jawa) dan “bagian-luar” Indonesia (pola ladang) dimana sumberdaya hutan dominan. Mengingat dampak luas pembangunan Indonesia pada masa Orde Baru selama tiga puluhan tahun, jelas klasifikasi subsistem daerah atas dasar potensi wilayah masing-masing, perlu tinjauan kembali dan dibuat dalam suatu sajian yang membantu para pemuka di daerah, sesuai tuntutan era Otonomi Daerah.

Bagi subsistem Jawa (sawah irigasi, sepanjang tersedia cukup air….) dengan penduduk sangat padat yang terus didorong ke luar dari pertanian, masih ada manfaat belajar dari Taiwan atau Jepang (masa 1950-an). Reforma Agraria yang mendasar terlaksana di sana (tak terlepas dari dorongan pihak Amerika Serikat yang waktu itu punya pengaruh langsung dalam urusan dalam negeri di sana telah mendorong petani lapisan atas untuk memasuki lapangan usaha urban, di luar pertanian. Menurut Oshima (…), pengusaha baru yang memasuki subsektor sekunder dan tersier berhasil, karena telah disiapkan sebagai pengusaha baru berkat pengalaman sewaktu berperan sebagai manajer usaha tani maju di desa !

Bagaimana halnya prospek di wilayah “penduduk tak padat” di luar Jawa ? (Kepadatan penduduk kurang dari 50 orang/km2: (ukuran para ahli kehutanan sebelum masa Perang Pasifik) merupakan “imbang batas” potensi keberlanjutan sistem ladang berpindah. Selama masa tiga puluhan tahun, potensi sekian puluh juta hektar lahan dan sumberdaya alam hutan asli telah dijadikan mangsa golongan pengusaha besar penganut “kapitalisme semu” (ersatz). Sejarah pulau Jawa terulang kembali dimana pada tahun 1875 pengusaha besar diberi peluang menyewa tanah “domain negara” untuk masa 75 tahun. Sejak tahun 1967 di wilayah luas Indonesia, pengakuan “domain negara” menjadi kebijakan ekonomi politik, memberi peluang utama pada pengusaha sedang/besar dan membuka peluang bagi petani di desa-desa yang terkena kebijakan politik negara yang “masuk-paksa”, peranan baru setara buruh (lepas/terikat).

Sampai mana kebijakan mendorong perkebunan besar (sebagian dalam pola “PIR-BUN”) telah menujukkan hasil yang berkelanjutan dan dalam proses itu memberdayakan masyarakat desa di lokasi itu ?

Di masa Orde Baru juga telah dilaksanakan transmigrasi secara besar-besaran (sebagian dengan dana Bank Dunia), suatu bentuk “reforma agraria” yang melibatkan penduduk migran, pendatang dari wilayah padat penduduk di Jawa/Bali. Sampai mana keberhasilan membentuk desa-desa baru dengan pola pertanian yang berkelanjutan ? Riwanto (dari LIPI) baru-baru ini (2001) menilai program transmigrasi itu telah gagal, tak berkelanjutan, disertai konflik-konflik sosial di wilayah tertentu antara pendatang dengan penduduk asal (sejak krisis 1997). Kasus terakhir yang disebut “rencana lahan sejuta hektar” di Kalimantan Tengah, merupakan kegagalan yang terutama disebabkan oleh salah pilihan lokasi dan upaya membangun yang meleset, kurang waspada terhadap tantangan lingkungan di wilayah seluas itu. Akibat ekologis dari salah pilih itu (dalam berbagai arti) masih belum diperkirakan, setelah sekian luas lahan gambut rusak dan kawasan hutan aslinya tersisihkan.

Hanya belum ada penilaian atas hasil “gerak penduduk” yang terjadi spontan di luar program transmigrasi dan PIR-BUN (diperkirakan melibatkan jumlah orang yang sampai 4 kali jumlah transmigran “resmi”, mungkin lebih).

Sejumlah konflik yang terjadi sejak krisis ekonomi (1997) dan melibatkan petani di desa-desa baru itu (sebagian terjadi juga di kota, di KTI), melibatkan penduduk berbagai suku dan asal. Dalam hal melibatkan golongan petani (penduduk pendatang dan asal), sama sekali tak dapat disebut “revolusi petani”. Apalagi yang terwujud dalam gerakan penjarahan atas kebun dan hutan milik perusahaan besar (atau hutan negara di Jawa), petani yang terlibat hanya memperoleh keuntungan seketika, menjadi “alat” yang dikendalikan oleh pihak yang punya uang dan pengaruh di daerah.

Bahkan hal berlanjutnya usaha merambah hutan (ada pasaran kayu bermutu berkat cukong-cukong yang aktif), tidak membuat petani dan orang-orang desa yang lain menyadari keterlibatan mereka dalam suatu konflik, yaitu konflik dengan kepentingan generasi baru, anak-anak mereka.

VI.

Upaya memberdayakan petani di desa yang bermasalah maupun yang tidak bermasalah berarti pilihan jalur demokrasi yang dikembangkan dalam masyarakat desa. Sampai mana proses “membangun desa” atas dasar “daulat rakyat desa” berpeluang terwujud di era Otonomi Daerah? Ada dua undang-undang yang dihasilkan tahun 1999. Yang satu, dengan model Depdagri-Otda, dan yang lain, visi Departemen Keuangan (kabarnya yang pertama sedang direvisi pemerintah, setahun setelah mulai diberlakukan).

Di sini pun corak kebijakan “pembangunan desa” semasa Orde Baru berpotensi kendala besar, akibat negatif dari “kuatnya Negara masuk desa “(M.Mas’ud), dan akan perlu waktu untuk mengatasinya. Di masa Orde Baru itu ditetapkan UU tahun 1974 (tentang pemerintahan di daerah) dan UU Desa (1979) yang terutama mengikuti model “desa di Jawa” yang di daerah lain ternyata sulit dipraktekkan (tak jalan). Dalam proses itu tersedia dana Inpres Desa (tiap tahun) : peluang untuk “ikut makan dari proyek” berkembang, yang melibatkan pemerintah desa juga.

Jalur formal untuk “partisipasi masyarakat desa” ditetapkan oleh suatu Keputusan Presiden yaitu lembaga yang dikenal sebagai LKMD, boleh dikata sebagai “perencana” dan “pelaksana” pembangunan di desa membantu Pemerintah desa yang ditetapkan sesuai UU Desa 1979. Suatu lembaga lain juga ditetapkan LMD, tempat musyawarah di antara pemuka desa, yang dalam kenyataannya “nyaris” tanpa suara, dibandingkan LKMD, dimana salah satu seksi yang lebih dikenal adalah PKK yang diketuai Ibu Kepala Desa, di kecamatan oleh Ibu Camat, terus sampai ke puncak hierarki di Jakarta, dimana Ibu Menteri Dalam Negeri adalah Ketua Nasionalnya. Itulah salah satu bentuk “nasionalisasi” desa di masa Orde Baru. Menurut pakar sosiologi (Sediono M.P. Tjondronegoro), setiap lembaga di desa menunjukkan satu ciri yaitu “tunduk pada kekuasaan (atas-desa)/power compliance”, berdasarkan kajian dari desa-desa di Jawa Barat dan Jawa Tengah pada tahun 1975-an. Gambaran umum itu dilukiskan oleh Sajogyo (1993), pola itu yang berlaku di masa Orde Baru, hasil rezim yang sentralistik itu. Ada sumber bacaan lain yang ditulis berdasarkan studi-studi kasus, yaitu berasal dari Hüskens (kasus desa di Pati dan di Comal, Jawa Tengah, berdasarkan data sejarah, hampir seabad). Jika N.G. Schulte-Nordholt mencantumkan hasil kajiannya perihal hubungan antara camat dengan kepala desa dengan judul “Ojo Dumeh”, Antlőv cs. memilih judul buku (kumpulan hasil kajian 7 orang pakar, termasuk sejarahwan Sartono), “Kepemimpinan Jawa : Perintah Halus, Kepemimpinan Otoriter” (terjemahan, Yayasan Obor Indonesia, 2001). Perlu dicatat bahwa ada juga buku, hasil kajian lain di Jawa, yang berisi hasil yang lebih memberi harapan, yaitu oleh K. Suwondo yang mencatat tanda-tanda kehidupan “kelembagaan sipil” di pedesaan di Klaten.

Dengan sejarah dan sikon seperti yang digambarkan itu (“kekuatan Negara Masuk Desa” jauh lebih dominan daripada “Desa Masuk Negara”, pemikiran M. Mas’ud), apa peluang bagi desa dalam UU Otonomi Daerah tahun 1999 ? Di situ ada pasal 99 dan 100 yang baik bila kita ikut kembangkan karena menyebutkan salah satu wewenag desa adalah melaksanakan suatu “tugas perbantuan dari pemerintah : propinsi/kabupaten, dengan persyaratan bahwa perbantuan itu disertai dengan pembiayaan, sarana dan prasarana, serta sumberdaya manusia”. Kalau hal ini benar, kini desa (tak jelas apakah langsung pemerintah desa atau lembaga lain di desa yang ditentukan oleh pemerintah desa) dalam posisi “bisa bilang tidak” jika tak setuju maksud dari suatu program masuk ke desanya ! Sementara kita menunggu laporan mengenai praktek pelaksanaan dua pasal itu, sudah ada SK Menteri Dalam Negeri yang “menghidupkan kembali” lembaga LKMD (bisa nama lain, pilihan penduduk) yang dapat berfungsi sebagai LSM-nya desa. LKMD itu berasal dari masa Orde Baru, bentukan Keppres, dan tidak ada dalam UU Desa 1979. Sementara ini ada pula suatu peraturan pemerintah yang berisi petunjuk panjang lebar tentang “bagaimana mengurus hal desa” yang isinya berpotensi campur tangan pemerintah (terdekat Pemda Kabupaten) tetap berkelanjutan ke bidang-bidang yang termasuk wewenang desa !

Dan bagaimana halnya urusan demokrasi di kelurahan, yang ada di wilayah kota/urban ? Dengan adanya Kepala Kelurahan yang pegawai negeri (Pemda Kota), bukan pilihan rakyat, penduduk dipersilahkan menemukan sendiri saluran-saluran demokrasi di aras bawah itu. Ada persamaan dengan apa yang pernah ditetapkan Orde Baru dalam hal kemandirian orang desa dalam membentuk koperasi yang dibuat berbeda. Bagi orang desa (dengan Kepala Desa yang dipilih) hanya terbuka lembaga koperasi berbentuk KUD (antar desa), sebaliknya bagi orang kota, berlaku ketentuan undang-undang koperasi “boleh membentuk sendiri jenis koperasi apapun !” Apakah konsekuensi dari perbedaan peluang rakyat berkoperasi itu ? Jika praktek di alam Orde Baru itu akan bertahan di era reformasi, hal itu dapat menentukan corak hubungan desa-kota, terutama di jalur emansipasi orang desa menjadi orang kota.

——————————————————————————–

Prof. Dr. Ir. Sajogyo : Guru Besar Sosiologi Pedesaan IPB, Bogor, dan Direktur Eksekutif Pusat Pengkajian dan Pengembangan Perekonomian Rakyat -Yayasan Agro-Ekonomika (Pusat P3R-YAE)

Makalah disampaikan pada Pertemuan II Seminar Pendalaman Ekonomi Rakyat, YAE-Bina Swadaya, Financial Club, Jakarta, 5 Februari 2002.

PUSTAKA

Gardono S. , Iwan. 2001. Populisme dan Multistrata dalam Konstitusi Indonesia. Seminar…… 15 September 2001 di UI Depok.

Sajogyo. 1993. Agriculture and Industrialization in Rural Development in Dirkse et.al. (eds) : Indonesia’s Experiences Under the New Order. KITVL Press. Leiden.

Thorbecke, E. 1993. Analizing Rural Poverty, ibid. p. 45-60, 61-66.

Kasryno, F. (ed). 1984. Prospek Pembangunan Ekonomi Pedesaan. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.

Kasryno, F. 2000. Menempatkan Pertanian sebagai Basis Ekonomi Indonesia : Memantapkan Ketahanan Pangan dan Mengurangi Kemiskinan. Prosiding Widyakarya Pangan dan Gizi 2000. LIPI. Jakarta.

Mubyarto. 2000. Membangun sistem Ekonomi. BPFE. Yogyakarta.

Kurtz, M. J. 2000. Understanding Peasang Revolution : from Concept to Theory and Case in Theory and Society (29:93-124).

UNDP. 2001. Conference on UNDP Poverty Strategy Initiatives. Oslo.

Geertz, C. Involusi Pertanian.

Sinaga, R. S. dan B. White. 1979. Beberapa Aspek Kelembagaan di Pedesaan Jawa dalam Hubungannya dengan Kemiskinan Struktural. Kongres III HIPIS. Malang.

Tirtosudarmo, R. 2001. A National Project that Failed : Tale of Poplulation Resettlement Policy in Indonesia. COE International Seminar : Changing People Environmental Interactions in Contemporary Asia. CSEAS/ASAFAS. Kyoto University. Kyoto.

Lipton dan Moore. 1980. Metodologi Studi Pedesaan di Negara-negara Berkembang. YIIS. Jakarta.

Hüsken, F. 2001. Continuity and Change in Local Politics : The Village Administrative and Control of Land and Labour, in Kans/Husben/Djoko Suryo : Beneath the Smoke of the Sugar Mill. Japanese Coastal Communities During the Twentieth Century. Akatiga and Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Schulte Nordholt, N. G. 1981. Ojo Dumeh : Pembangunan Karena Perintah atau Pengembangan berdasar Musyawarah ?. Tesis Doktor.

Antlőv, H. dan S. Cedevoth (eds). 2001. Kepemimpinan Jawa : Perintah Halus dan Kepemimpinan Otoriter. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.

Undang-undang Otonomi Daerah 1999. 1999. UU No. 22/1999 dan UU No. 25/1999. Sinar Grafika

Tjondronegoro, S. M. P. 1977. The Organizational Phenomenon and Planned Development in Rural Communities of Java. Tesis Doktor. Universitas Indonesia. Jakarta.

Booth, A. 1988. Agricultural Development in Indonesia. Allen and Unwin. Sidney

9 comments on “PERTANIAN DAN KEMISKINAN

  1. assalamu alaikum
    makasih sebelumnya…
    atas infonya diatas….
    kebetulan saya juga berminat untuk mengangkat mengenai revolusi hijau. bagaimana proses masuknya revolusi hijau didesa-desa. dan siapa yang paling di untungkan dengan kebijakan ini. klo ada info tolong di bagi yah atau semacam buku (referensi) lain.
    sebelumnya terima kasih….

  2. terima kasih…telah memuat artikel ini
    saya memang sedang mencari referensi mengenai kemiskinan, dan Prof. Sajogyo salah satu pakar di bidang ini…hasil pemikiran beliau banyak dan layak mencari acuan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s