DIMENSI ARTISTIK DALAM AJARAN ISLAM


DIMENSI ARTISTIK
DALAM AJARAN ISLAM
Oleh : Muhammad Hambali, S. HI

A. Pendahuluan
Islam adalah agama universal, didalamnya terdapat ajaran yang berdimensi spiritual maupun dimensi sosial. Dalam hal ini, Islam bukan hanya mengajarkan bagaimana tata cara beribadah yang menyangkut hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan melainkan juga memuat ajaran yang mengatur hubungan manusia dengan sesamanya atau hubungan horizontal.
Dalam kaitan hubungan horizontal, seni bagi penulis merupakan bagian dalam klasifikasi hubungan tersebut. Adalah fakta sejarah yang tidak bisa kita pungkiri bahwa dalam perjalanan sejarah, Islam telah menyumbangkan peradaban dunia. Baik yang menyangkut peradaban intelektual maupun peradaban yang menyangkut kemegahan bangunan fisik yang termanifestasikan dalam istana megah dinasti-dinasti Islam.
Di Spanyol, terdapat istana Cordova dan Granada. Istana Cordova dalam catatan sejarah dikatakan bahwa istana tersebut dikelilingi taman-taman serta bunga-bunga yang di impor dari Timur. Selain itu pula, di istana ini terdapat pemandian umum. Sedangkan di Granada istananya terkenal sebagai manifestasi puncak kejayaan arsitektur Muslim Spanyol. Di sekeliling istana tersebut terdapat taman-taman yang indah. Kesemuanya itu merupakan sepenggal cerita kemajuan yang pernah dicapai oleh Islam terkait seni arsitektur.
Di samping arsitektur, Islam juga mencatat perkembangan dalam bidang sastra. Menurut Ira M. Lapidus bahwa ekspresi yang paling pokok dalam program kerajaan adalah upacara Istana, seni, dan arsitektur. Pada masa pemerintahan Umayyah di Damaskus, istana khalifah tersebut menjadi panggung teater yang memainkan serial drama kerajaan. Di samping itu, seni kesastaraan yang terbangun adalah seni sastra Arab yang merupakan konvensi Arab pra Islam dan tradisi Lisan. Di sisi lain, pada masa kekhalifahan Abasiyyah corak perkembangan sastranya di manifestasikan dengan syair Arab yang memadukan corak Badui kuno dan corak baru dari kalangan Istana.
Selain itu, sejarah juga mencatat tempat peribadatan umat Islam yaitu masjid, juga berdiri dengan megahnya. Sejumlah masjid di kekhalifahan Umayyah Damaskus di bangun dengan pola arsitektur yang memadukan dekorasi dan motif-motif yang halus dari unsur Kristen, Bizantium dan Sasania.
Dari sepenggal cerita kemajuan Islam tersebut, bila kita fikir secara mendalam, pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah hal-hal yang tercatat dalam sejarah di atas adalah semacam karya Umat Islam yang serba kebetualan saja, ataukah kemajuan-kemajuan tersebut berangkat dari pemikiran dan konsep yang universal.
Berangkat dari hal di atas, makalah yang bertajuk “Dimensi Artistik Dalam Ajaran Islam” bermaksud menguraikan makna-makna keindahan yang tertuang dalam ajaran Islam. Baik yang berkenaan dengan pengungkapan pernyataan Tauhid taupun manifestasi ajarana Islam yang tertuang dalam al-Qur’an dan al-Hadis. Mengingat luasnya tema pembahasan ini, maka makalah ini hanya akan membatasi diri pada aspek bagaimanakah nilai-nilai artistik dalam ajaran Islam serta indikasi atau karakteristik fundamental yang membedakan kesenian Islam dengan kesenian di luar Islam dan perdebatan klasik dikalangan para ulama Islam terkait seni Islam.

B. Sepenggal Pentakrifan Seni Islam
Bukan permasalahan yang mudah untuk mendifinisikan apa sebenarnya seni Islam tersebut. Apakah seni yang dalam pengungkapannya memakai bahasa Arab sebagai mana orang awan melihat yang dapat kita katakan sebagai seni Islam. Ataukah seni yang mendapatkan legitimasi dari ajaran Islam, ataukah seni yang dalam operasionalisasinya bernuansa atau bernafaskan nilai-nilai yang termaktum dalam sumber ajaran agama Islam. Barangkali kita tidak akan pernah sepakat tentang pentakrifan seni Islam ini.
Namun demikian, jika merujuk pada pandangan para ahli, mungkin kita dapat membangun persepsi yang setidaknya sama tentang apa sebenarnya seni Islam tersebut. Menurut Seyyed Hossein Nasr, seni Islam merupakan hasil dari pengejawantahan Keesaan pada bidang keanekaragaman. Artinya seni Islam sangat terkait dengan karakteristik-karakteristik tertentu dari tempat penerimaan wahyu al-Qur’an yang dalam hal ini adalah masyarakat Arab. Jika demikian, bisa jadi seni Islam adalah seni yang terungkap melalui ekspresi budaya lokal yang senada dengan tujuan Islam.
Sementara itu, bila kita merujuk pada akar makna Islam yang berarti menyelamatkan ataupun menyerahkan diri, maka bisa jadi yang namanya seni Islam adalah ungkapan ekspresi jiwa setiap manusia yang termanifestasikan dalam segala macam bentuknya, baik seni ruang maupun seni suara yang dapat membimbing manusia kejalan atau pada nilai-nilai ajaran Islam.
Di sisi lain, dalam Ensiklopedi Indonesia disebutkan bahwa seni adalah penjelmaan rasa indah yang terkandung dalam jiwa manusia, dilahirkan dengan perantaraan alat komunikasi kedalam bentuk yang dapat ditangkap oleh indra pendengaran (seni suara), penglihatan (seni lukis dan ruang), atau dilahirkan dengan perantaraan gerak (seni tari dan drama).
Dari difinisi yang kedua ini bisa jadi seni Islam adalah ekspresi jiwa kaum muslim yang terungkap melalui bantuan alat instrumental baik berupa suara maupun ruang. Hal ini juga bisa kita lihat dalam catatan sejarah bahwa dalam perkembangannya baik seni suara maupun ruang termanifestasikan.
Dengan definisi demikian, maka setiap perkembangan seni baik pada masa lampau maupun masa kini bisa dikatakan seni Islam asalkan memenuhi kerangka dasar dari difinisi-difinisi di atas. Dengan kata lain, seni bisa kita kategorikan seni Islam bukan terletak pada dimana dan kapan seni tersebut termanifestasikan, melainkan pada esensi dari ajaran-ajaran Islam yang terejahwantah dalam karya seni tersebut.

C. Karekteristik Seni Islam Serta Manifestasinya Dalam al-Qur’an
Ungkapan artistik dalam ajaran Islam yang termanifestasikan dalam seni ruang dan yang lainnya, membawa kita pada pemahaman bahwa seni Islam memiliki karekteristik yang membedakan dengan seni yang lainnya. Karekteristik-karakteristik tersebut adalah sebagai berikut :
Pertama seni Islam bercirikan abstrak dan mujarat. Ciri ini didasari atas munculnya penafsiran seni Figural yang berangkat dari pemahaman bahwa alam ini adalah ilusi yang dinafikan. Namun bagi seni Islam, alam adalah kreasi seni Tuhan yang dapat dirasa dan di raba.
Kedua seni Islam bercirikan Struktur Modular. Artinya dalam karya seni Islam senantiasa di bangun dari entity atau bentuk-bentuk yang lebih kecil yang pada akhirnya bergabung menjadi bentuk yang lebih komplek.
Ketiga seni Islam bercirikan gabungan berurutan. Artinya dalam berbagai bentuknya baik yang berkenaan dengan seni suara, ruang dan gerak, seni Islam senantiasa terbangun dari komponen kecil yang bergabung secara berurutan. Gabungan berurutan yang lebih besar tesebut dalam kenyataannya tidak menafikan keberadaan komponen yang lebih kecil. Justru gabungan-gabungan tersebut di sambung dengan komponen yang lebih besar yang membentuk gabungan yang lebih kompleks. Contoh dari ciri ini dapat kita lihat dalam al-Qur’an.
Keempat seni Islam bercirikan perulangan. Artinya dalam berbagai coraknya, karya seni Islam mengandung model perulangan yang tinggi, baik perulangan motif, struktur modularnya maupun kombinasi berurutannya. Manifestasi dari ciri ini juga dapat kita lihat dalam al-Qur’an. Artinya betapa tidak bisa kita pungkiri bahwa dalam Qur’an kita temukan model-model pengulangan. Dari sisi seni Islam ini merupakan karya maha agung yang menakjubkan, sebab membuat perulangan yang dibarengi dengan perulangan keseragaman makna dan bunyi adalah hal yang sangat luar biasa sulitnya.
Kelima seni Islam bercirikan dinamis. Artinya dalam karya-karya seni Islam senatiasa melalui lingkungan masa. Menurut Boas bahwa setiap seni yang ada pada dasarnya sama, yaitu meliputi lingkungan masa dan ruang. Seni yang meliputi lingkungan masa adalah seni sastra dan seni musik. Sedangkan seni yang meliputi lingkungan ruang adalah seni tampak atau bina ( arsitektur ). Adapun tari dan drama adalah menggabungkan seni masa dan seni ruang.
Keenam seni Islam memiliki kerumitan. Jika kita menilik lebih lanjut terhadap karya-karya seni Islam, maka kerumitan dalam komponen-komponennya adalah dapat kita ketemukan. Baik dalam seni kaligrafi maupun seni ruang. Manifestasi dari kerumitan ini juga dapat kita ungkap dalam al-Qur’an. Artinya pemakaian gaya bahasa yang terdapat dalam al-Qur’an dari sisi seni Islam merupakan manifestasi dari gaya bahasa tingkat tinggi yang membangun sebuah keindahan sastra.

D. Perkembangan Seni Dalam Islam
Perlu di pahami terlebih dahulu bahwa perkembangan seni yang penulis maksudkan adalah perkembangan seni yang terjadi disalah satu belahan dunia Islam yaitu Spanyol. Alasan yang melatar belakangi pengangkatan kemajuan seni di Spanyol adalah bahwa Muslim Spanyol adalah salah satu pusat peradaban dunia Islam yang pada akhirnya jauh lebih pesat dari pada di belahan dunia yang lainnya yang dalam hal ini adalah Muslim Timur yang di representasikan oleh Abasiyyah dan Umayyah Damaskus.
Pertama perkembangan seni musik. Fondasi perkembangan musik di Spanyol diletakkan oleh seorang yang bernama Ziryab. Melalui tangan Ziryab di Spanyol tepatnya di Kordova di bangun sekolah musik atas bantuan Khalifah al-Hakam II. Selain Ziryab, terdapat juga Ibn Firnas (w. 888M). Ia merupakan tokoh yang memperkenalkan seni musik timur di Spanyol. Menurut K. Hitti pada abad ke 11 M, perkembangan seni musik di Spanyol jauh lebih pesat dari pada perkembangan seni musik di Baghdad. Indikator dari pernyataan ini adalah bahwa di kota Seville pada masa pemerintahan Abbadiyyah, menjadi pusat perkembangan musik, lagu dan kesenian lain yang indah.
Dari perkembangan seni musik di Spanyol, pada gilirannya memberikan andil terhadap perkembangan seni musik di daratan Eropa. Dalam pandangan peneliti-peneliti terdahulu seperti, Ribera sebagaimana yang dikutib oleh K. Hitti menyatakan bahwa seluruh musik pop (Musica ficta) pada abad ke-13M di daratan Eropa baik berkaitan dengan lirik dan roman-roman sejarah di wilayah itu bila di telisik lebih lanjut akarnya berasal dari Spanyol. Demikianlah dialektika seni musik Spanyol telah turut andil dalam membangun peradaban baik di kalangan wilayah Islam sendiri maupu di daratan Eropa.
Kedua perkembangan seni ruang (arsitektur). Ciri khas yang menonjol dalam bangunan arsitektur di Spanyol adalah konsep arsitektur tapak kuda. Sistem arsitekrur ini digunakan pada bangunan-bangunan yang tersebar di utara Suriah. Kontribusi Muslim Spanyol yang bisa dikatakan orisinil adalah terletak pada sistem pembangunan kubah yang didasarkan atas tapak yang saling berhubungan dan tulang rusuk yang saling berpotongan.
Dari perkembagan seni arsitektur di Spanyol pula, daratan Eropa ikut menyerap model-model ini. Di antaranya adalah di kenalnya lengkungan Moor di daratan Eropa pada dasarnya bila ditelisik akarnya adalah berasal dari model lingkaran sepatu kuda yang digunakan pada konstruksi masjid Umayyah di Damaskus. Begitu pula dengan model tapak lancip yang terkenal dalam seni arsitektur Barat-Gotik, pada dasrnya mengadopsi seni arsitektur yang terdapat dalam bangunan masjid Umayyah di Damaskus.

E. Perdebatan Klasik Para Ulama Tentang Seni
Perdebatan di kalangan para ulama yang dimaksudkan disini adalah terkait keberadaan seni suara dan pengunaan instrument alat musik. Pandangan para ulama tersebut antara lain sebagai berikut :
Pertama Imam Syaukani dalam kitabnya Nailur Authar yang mengutip pendapat para ulama lain menyatakan bahwa :
• Para ulama berselisih paham tentang hukum menyanyi dan penggunaan alat musik. Bagi jumhur ulama mengatakan haram, sedangkan bagi ahli Dzohiriyah memperbolehkannya.
• Abu Mansyur al-Baghdadi ( Mazhab Syafi’i) mengatakan seni suara dan penggunaan alat musik adalah boleh. Hal ini didukung oleh fakta bahwa Abdullah Bin Ja’far pernah melakukan hal serupa pada masa Ali Bin Abi Thalib.
• Ar-Ruyani dari mazhab Maliki menyatakan bahwa seni suara dan penggunaan alat musik diperbolehkan.
Kedua menurut abu Ishak Asy-Syirazi dalam kitabnya Al-Muhazzab mengatakan bahwa :
• Diharamkan menggunakan alat-alat permainan yang membangkitkan hawa nafsu seperti alat musik gambus, tambur, mi’zah (sejenis piano) drum dan seruling.
• Boleh memainkan rebana pada pesta perkawinan dan khitanan. Selain dalam kedua acara tersebut tidak diperkenankan.
Ketiga menurut al-Alusi dalam tafsirnya Ruhul Ma’ani mengatakan bahwa :
• At-Thursusi berpendapat yang dinukil dari kitab Adabul Qadha bahwa imam Syafi’I mengatakan menyayi itu adalah permainan makruh yang menyerupai pekerjaan bathil
• Sebagian para ulama berpendapat boleh menyanyi dan menggunakan alat musik, namun hanya pada acara-acara tertentu saja. Seperti dalam pesta pernikahan, khitanan dan hari raya
Dari pandangan para ulama di atas, penulis berpendapat bahwa keharaman yang muncul dalam hukum seni suara dan penggunaan alat musik, pada dasarnya tidak terlepas dari konteks sejarah yang melarbelakangi hukum tersebut. Dalam hal ini, bagi penulis keharaman itu muncul dikarenakan dalam kultur arab kala itu, tradisi bermain musik dan bernyanyi senantiasa di barengi dengan suguhan minum-minuman keras. Dengan demikian, adalah wajar manakala para ulama terdahulu mengharamkam seni musik dan penggunaan instrumennya.
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana manakala seni bernyanyi tersebut tidak lagi dibarengi dengan minuman keras. Jika demikian penulis berpendapat dengan berpegang pada kaidah fiqh yang menyatakan “ Al-Hukmu Yadurru Ma’a Ilati Wujudan Wa Adaman ” maka, karena ilat hukum dari keharaman seni musik dan instrumennnya sudah tidak ada, maka begitu pula hukumnya. Dengan demikian, hukum seni bernyanyi dan instrumennya menjadi halal.

F. Pesan Spiritual Dalam Seni Islam
Seni Islam mempunyai landasan pengetahuan yang di ilhami oleh nilai-nilai spiritual, yang dalam pandangan para tokoh tradisional seni Islam di sebut dengan hikmah dan keraifan. Salah satu pesan spiritual yang di sampaikan dalam seni Islam adalah kelugasannya dalam menyampaikan esensi Islam yang jauh lebih mudah dicerna oleh pemikiran manusia dari pada penjelasan yang bersifat ilmiah.
Sebaris kaligrafi tradisional justru lebih mampu menjelaskan karakter pesan Islam dibandingkan dengan ungkapan ilmiah para modernis dan aktifis. Orang akan merasa tenang ketika duduk di atas karpet tradisional, memandang sebaris kaligrafi,mendengarkan syair klasik dan tilawah al-Qur’an. Betapa ini adalah semacam ketenangan psikologis yang mampu disampaikan oleh berbagai seni dalam Islam.
Seni Islam juga dapat berfungsi sebagai wahana kotemplasi pada manusia di saat ia disibukkan dengan aktifitas hariannya. Adalah sifat manusia manakala ia disibukkan dalam aktifitas duniawi, baik berkaitan dengan ekonomi, politik maupun yang lainnya cenderung untuk melupakan Tuhan. Seni Islam adalah sarana yang mampu menembus ruang-ruang kesibukan manusia dalam segala bentuknya yang membimbing kearah kesadaran akan keberadaan Tuhan. Hal yang demikian inilah, bagi penulis yang dikatakan sebagai pesan spiritual yang tersampaikan dalam karya seni Islam.
Walaupun demikian, tidak bisa kita pungkiri juga, bahwa kita sering kali terjebak pada hal-hal formal (terikat pada bentuk ). Dengan kata lain, seyogyanya melalui karya seni Islam, baik seni ruang maupun suara, pesan spiritual yang seharusnya terbaca oleh setiap individu, justru hanya berhenti pada keindahan bentuk dari seni Islam tersebut. Hal yang demikian itu, bagi penulis tidak ubahnya sebagai pola keberagamaan kita. Artinya, realitas-empiris yang terdapat disekitar kita tersebut tidaklah mereduksi pemahaman bahwa seni Islam mampu menyampaikan pesan spiritual terhadap setiap individu.
DAFTAR PUSTAKA

al-Baghdadi, Abdurahman, Seni Dalam Pandangan Islam: Seni Vocal, Musik Dan Tari, Jakarta: Gema Insani Press, 1991

Ensiklopedi Indonesia, Jilid V, Jakarta: PT. Ikhtiar Baru Van Hoeve, 2002

al-Faruqi, Ismail R, The Cultural Atlas of Islam, Terj. Khairuddin Harun, USA: International Institut of Islamic Thought, 1992

Hossein Nasr, Seyyed, Spiritualitas Dan Seni Islam, Jakarta: Mizan, 1998

K. Hitti, Philip, History Of The Arabs: From The Earliest Times To The Present, Terj. R. Cecep Lukman Yasiin, Jakarta: PT. Serambi Ilmu, 2002.

Lapidus, Ira M, A History Of Islamic Sicieties, Terj. Ghufron A. Mas’adi, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1999

Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1998

Nasution, Harun, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, Jilid 1, Jakarta: UI Press, 1985

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s