KADO ISTIMEWA MENJELANG AKHIR PEMERINTAHAN SBY


KADO ISTIMEWA
MENJELANG AKHIR PEMERINTAHAN SBY
Oleh : Muhammad Hambali

Menjelang akhir pemerintahan presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang kurang lebih 1,5 tahun lagi, seakan-akan mendapatkan ujian yang bertubi-tubi. Kita tentu masih ingat, tatkala SBY terpilih menjadi Presiden untuk kali pertamanya oleh pemilihan langsung, SBY sudah dihadapkan pada permasalahan bencana alam di aceh dan bencana-benca alam lainnya.
Menjelang akhir pemerintahannya, SBY juga dihadapkan dalam masalah pelik yang mukin siapa pun Presidennya akan dibuat kelabakan. Ujian akhir tersebut tak lain adalah meroketnya harga minyak dunia yang sampai hari ini telah menembus level 100 Dollar AS per barrel. Dengan harga minyak tersebut, tentu akan memicu terjadinya lonjakan harga-harga kebutuhan dalam negeri. Selain itu, tingginya harga minyak tersebut juga berpengaruh terhadap pembengkakan subsidi BBM, sementar asumsi Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara – Perubahan (APBNP) 2008 hanya 95 dollar AS per barrel. Lalu bagaimanakah pemerintahan SBY ini mensikapi realitas harga minyak tersebut.
Menurut menteri keuangan Sri Mulyani Pemerintah akan terus memantau perkembangan harga minyak dari waktu ke waktu, terkait harga minyak yang terus meroket hingga di atas 100 dollar AS per barrel “Perkembangan setiap hari kita monitor, pada pertengahan tahun akan kita laporkan realisasi APBN sampai dengan 6 bulan pertama,” Menanggapi adanya perkiraan analis bahwa harga minyak akan terus meroket di atas 110 dollar AS per barrel, ia mengatakan, harus dilihat dulu apakah angka itu merupakan angka harian atau bulanan atau rata-rata tahunan.
Selain itu, Menku juga mengatakan bahwa APBNP yang didasarkan pada asumsi harga miyak sebesar 95 Dollar AS per Barrel akan tetap dijalankan terus dengan pertimbangan implikasi terhadap pengeluaran. Ia mengatakan “Nanti kita lihat dalam pertengahan tahun. Apakah dengan proyeksi tengah tahun ini keseluruhan anggaran untuk subsidi memenuhi atau tidak kalau itu dianggap memenuhi, ya jalan terus. Nanti dengan DPR akan kita bahas lagi,”
Pada kesempatan itu, Menkeu juga menyatakan pihaknya akan mengevaluasi dampak kenaikan harga komoditi terhadap target inflasi di APBNP setelah realisasi selama tiga kuartal yang akan datang. “Kita akan lihat inflasinya seperti apa, inflasinya YoY (year on year) lebih tinggi dari APBN atau tidak. Kita akan lihat realisasi tiga kuartal ke depan,” katanya. APBNP 2008 menetapkan laju inflasi sebesar 6,5 persen. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, laju inflasi selama bulan Maret 2008 mencapai 0,95 persen, tingkat inflasi tahun kalender (Januari-Maret 2008) mencapai 3,41 persen, dan inflasi year on year sebesar 8,17 persen.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak tersebut juga akan berdampak pada pembengkakan subsidi BBM. Dalam APBN Perubahan 2008, DPR dan pemerintah menetapkan subsidi BBM Rp 126,82 triliun Perhitungan itu di dasari asumsi harga minyak 95 dollar AS per barrel. Berdasarkan hitungan Ditjen Migas, pada harga minyak 125 dollar AS per barrel, subsidi BBM mencapai Rp 198 triliun. Sementara Asosiasi Perminyakan Indonesia memperkirakan, pada harga minyak 100 dollar AS per barrel, subsidi BBM Rp 182,36 triliun.
Menanggapi relitas tersebut, Menteri ESDM mengatakan pemerintah tidak akan mengambil opsi penyesuaian harga atau dengan menaikan harga BBM, namun dengan menjalankan kebijakan penghematan subsidi dengan kartu kendali (smart card) dan meningkatkan produksi minyak. Menurut Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro “Ada hitungannya Setiap penurunan produksi 10.000 barrel, ada potensi penerimaan negara yang hilang Rp 2 triliun. Namun, ada optimisme, produksi minyak bisa capai target 927.000 barrel per hari,”
Rata-rata produksi minyak sejak awal tahun ini di atas 950.000 barrel per hari (bph). Pada Januari 955.487 bph, Februari 992.326 bph, dan Maret 982.540 bph. Purnomo mengakui, pihaknya sempat ada rencana meningkatkan potensi pendapatan negara dari kenaikan harga minyak, yaitu mengubah porsi bagi hasil minyak dan mengubah aturan fiskal. Namun, setelah dihitung, potensi windfall profit yang didapat pemerintah dari pembagian 85 banding 15 sudah besar.

Ulasan
Menurut pandangan saya, apa yang tengah dilakukan oleh pemerintah adalah salah satu langkah yang mungkin bisa dikatakan langkah yang terbaik yang bias diambil oleh pemerintah. Opsi yang ditawarkan oleh pemerintah lewat menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro yang menyatakan bahwa pemerintah tidak akan mengambil kebijakan penyesuaian harga adalah kebijakan yang perlu mendapatkan dukungan segenap pihak. Hal ini penting, sebab itu menandakan pemerintah benar-benar mengerti akan beban yang tengah dialami oleh masyarakat khususnya masyarakat kecil.
Kita bisa membayangkan jika pemerintah mengambil kebijakan penyesuaian harga, betapa beban rakyat akan semakin bertambah. Namun demikian, bagi saya tetap saja bukan berarti gtanpa menaikan harga kebijakan tersebut sepenuhnya kebijakan yang bener-bener win-win solution, sebab alternative solusi yang ditawarkan pemerintah terkesan sangat reaksioner dan tidak dengan persiapan infrastruktur yang memadai.
Dikatakan terkesan reaksioner, sebab opsi alternative selain penaikan harga adalah dengan program penghematan subsidi, yang itu artinya jika subsidi BBM di tekan maka volume produksi BBM akan menurun. Jika demikian tentu akan terjadi pengaturan terhadap konsumsi BBM sebagaimana program penerapan kartu kendali atau smart card. Berbagai kalangan menilai bahwa pembatasan premium dan solar bersubsidi dengan menggunakan” kartu pintar” (smart card) dapat menimbulkan kekacauan apabila pemerintah tidak menyiapkannya secara matang. Program serupa kita juga bisa melihat perkembangan konversi minyak tanah ke gas elpiji yang sampai akhir ini membuktikan pemerintah kurang mempersiapkan infrastrukturnya dengan matang sehingga program tersebut kelihatan morat-marit.
Di sisi lain saya juga kurang bisa mengerti, mengapa asumsi yang digunakan oleh pemerintah dalam menetapkan APBNP 2008 adalah asumsi harga minyak sebesar 95 Dollar AS per Barell. Pada hal pemeritah seyogyanya dalam melakukan perubahan APBN tersebut didasarkan asumsi harga minyak akan naik sekian persen dari perkembangan sebelum Melakukan perubahan APBN. Akankah hal tersebut memang di sengaja oleh sebagian pihak sebagai bagian dari manuver politik. Jika hal ini memang benar adanya maka adalah logis manakala seorang ekonom Amerika dalam kesempatan kuliah umum di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta mengatakan target pertumbuhan dan inflasi yang ditetapkan pemerintah saat ini sangatlah tidak rasional, sebab target inflasi yang ditetapkan pemerintah plus minus sebesar 6 persen mengacu pada asumsi minyak dunia sebesar 95 Dollar AS per barrel.
Dari realitas di atas, akhirnya saya berkesimpulan bahwa program pemerintah yakni pemhematan BBM dengan menggunakan kartu kendali atau Smart Card adalah program yang dalam batas ini bisa dikatakan sebagai progam alternative atas kenaikan harga minyak dunia yang reaksioner. Selain itu, asumsi yang digunakan oleh pemerintah dalam melakukan perubahan APBN 2008 pada harga minyak sebesar 95 Dollar AS per barrel adalah asumsi yang mungkin akan menjadi bahan pertanyaan senap kalangan, ada pa sebenarnya dengan pemerintah ini. Walaupun demikian sebagai warga Negara saya berharap semoga semua permasalahan ini mendapatkan jalan yang terbaik. Selain itu, realitas ekonomi local dan transnasional sekarang ini, semoga tidak menjadi komoditas politik segelintir orang yang mengincar jabatan. Amiin

Daftar bacaan
Kompas, Jum’at, 18 April 2008 dalam “ pemerintah terus monitor harga minyak”
Kompas, Jum’at, 18 April 2008 dalam “ subsidi masih aman”
Kompas, Rabu, 16 April 2008 dalam “ pemerintah Yakin Bisa Kelola Harga Minyak”

TEMPO Interaktif, Jum’at, 18 April 2008 dalam “Harga Minyak Mentah Turun Menjadi US$ 114,94”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s