KETIKA KAPITALISME LAIZZES FAIR


Marx Achmad

Marx Achmad

KETIKA KAPITALISME LAIZZES FAIR
TIDAK BISA DIPERTAHANKAN LAGI
Oleh : Muhammad Hambali

Resesi yang tengah menggulung perekonomian Amerika saat ini, menjadi bahan perbicangan yang hangat disemua kalangan masyarakat, baik pada kalangan pengemat ekonomi, dosen, mahasiswa sampai para penjual Koran. Pasalnya kasus kredit macet pada sector perumahan kelas dua di Amerika yang dikenal dengan SubPrime Mortgage terbongkar dengan dampak krisisnya bukan hanya pada sector perbangkan melainkan sudah merambah ke sector financial.
Kasus ini dalam perkembangannya berdambapak pada jatuhnya industri keungan transnasional Bear Stener yang diakuisisi oleh JP. Morgen. Menurut Miliuner George Soros, apa yang terjadi di Amerika sekarang ini, merupakan krisis keungan yang terburuk sejak depresi besar pada tahun 1929. lebih lanjut bagi Soros krisis yang tengah terjadi ini, sedang menuju titik Nadir ( Paling Dasar) dan paling cepat pemulihannya baru terjadi 3 bulanan.
Kekacauan di bursa saham, lembaga keuangan, kekacauan penyaluran kredit dan gejolak investasi portovolio (saham, obligasi dan surat hutang lainnya) merupakan dampak kebijakan ketika Ronal Reagan dan Margaret Thatcher sedang berkuasa di Amirika dan di Inggris. Kedua pemimpin tersebut bagi Soros merupakan pemimpin yang mendambakan perekonomian Laizzes Fair yang didasarkan pada asumsi bahwa mekanisme pasar bebas akan mampu melakukan koreksi sendiri tanpa adanya campur tangan pemerintah terhadap kesalahan yang terjadi.
Bagi Soros, ketika 2 tokoh tersebut memimpin mekanisme pasar bebas di sokong pinjaman financial yang secara akumulatif menumpuk hingga sekarang. Tidak adanya aturan yang ketat terhadap gerak gerik dan prilaku pasar uang adalah buah langsung dari mekanisme ini yang berdampak pada kekacauan alokasi dana yang akhirnya menuju kredit macet.

Perlunya Paradigma Baru
Dalam hal ini, baik George Soros maupun Rose Giiell seorang Profosor Ekonomi dari Universitas New Hampshire menyatakan bahwa perekonomian pasar bebas ala Leizzes Fair yang mensyaratkan minimnya peran pemerintah harus di ubah dengan mekanisme control yang ketat jika krisis financial serupa tidak ingin terjadi lagi.
Gagasan yang demikian itu, ditengah guncangan ekonomi di Amerika, marak menjadi opini Public. Pasalnya para pengamat ekonomi meyakini bahwa akar permasalahan krisis financial yang sedanga terjadi ini adalah akaibat dari kurangnya mekanisme control pada industri keuanngan oleh pemerintah.

Dampak Krisis SubPrime Mortgage Amirika
Krisis financial yang terjadi di Amirika tersebut bukan hanya berdampak pada internal ekonomi Amerika, namun juga berdampak pada kondisi perekonomian gelobal khususnya kawasan ASEAN yang notebene di dominasi oleh komunitas Negara-negar berkembang.
Di internal Amerika, krisis financial tersebut setidaknya menurut Menteri Keuangan Amerika Henry Paulson mengakui bahwa krisis financial tersebut berdampak pada anjloknya pertumbuhan ekonomi Amerika. Hal ini senada dengan pernyataan Gubernur Bank Sentral Amerika Ben Bernanke yang menyatakan “kita sedanga memasuki kuartal yang akan anjlok tajam, setidaknya perekonomian Amirika akan anjlok pada semester pertama pada tahun 2008.
Di bursa uang dan saham, anjloknya perekonomian Amerika ditandai denegan melemahnya nilai tukar Dollar AS terhadap UERO. Di London 1 UERO setara dengan 1,5604 Dollar AS. Pada sector ril, dampak krisis financial ini mulai terasa. Hal ini ditandai dengan turunnya daya beli masyarakat dan meningkatnya angka pengangguran.
Sementra itu, gejolak Financial Amerika juga mulai tersa di kawasan negar-negar berkembang. Hal ini ditandai dengan melemahnya volume ekspor ke negara maju termasuk didalamnya Amerika. Turunnya daya beli masyarakat Amerika mengakibatkan permintaan barang-barang Ekspor juga menurun.
Di samping itu gejolak financial yang terjadi di Amerika juga berdampak pada kenaikan harga pangan dunia. Pasalnya investor-investor dunia yang sebelumnya bermain di sector pasar saham dan valuta asing kini mulai merambah pada sector komiditas pangan sebagai lahan baru untuk meningkatkan keuntungan atau pengembangan kapitalnya.
Fenomena tersebut pada akhirnya berdampak pada munculnya kenaikan harga pangan dunia selain factor alam yang mempengaruhi tingkat produksi pangan dunia sedikit terganggu. Dari sini menurut Presiden Bank Dunia, Robert Zoeller menghimbau pada Negara maju untuk saling bahu membahu menolong Negara-negara berkembang yang terancam oleh Malnutrisi akibat krisis financial Amerika yang menggelobal ini.

Antisipasi Kawasan ASEAN
Menghadapi situasi gelobal demikian itu, Negara-negara yang tergabung dalam anggota ASEAN mengadakan pertemuan di Da Nang Vietnem. Pertemuan tersebut di hadiri oleh seluruh Menteri Keuangan Negara Anggota ASEAN. Agenda utamanya adalah membahas implikasi inflasi gelobal dan perlambatan perekonomian Amerika. Dengan pertemuan ini, diharapkan apa yang terjadi di Amerika dengan krisis Financialnya dampak terhadap kawasan ASEAN dapat diminimalkan.
Seperti di awal dikemukakan bahwa Negara-negara anggota ASEAN yang notabene di dominasi oleh Negara berkembang perekonomian negaranya sebagaian besar di topang oleh sector Ekspor kenegara maju termasuk didalamnya Amerika. Dengan situasi krisis financial demikian ini tenti volume ekspor akan terkoreksi tajam akaibat rendahnya daya beli masyarakat Negara maju atau eksportir.
Oleh karena itu, dengan pertemuan ini, diharapkan dikawasan ASEAN makin terjalin kerjasama yang harmonis antar anggotanya. Sebab, dengan melemahnya volume ekspor kenegara maju dapat diantisipasi melalui peningkatan permintaan di kawasan ASEAN. Selain itu, perekonomian suatu Negara juga di topang oleh permintaan dalam negeri sendiri. Dengan demikian, jika permintaan dikawasan ASEAN dan dalam negeri sendiri antar Negara anggota ASEAN maka apa yang terjadi di Amerika dan kawasan Internasional dampaknya dapat diminimalisir.

Ulasan
Apa yang terjadi di Amerikatersebut merupakan sebuah indikasi bahwa mekanisme pasar bebas dengan ruh Laizzes Fairnya dan merupakan Elan Vital dalam system perekonomian kapitalisme, sudah dalam batas ambang yang harus dilakukan analisa dan evaluasi atas mekanisme pasar bebas tersebut.
Perekonomian Laizzes Fair yang pada dasarnya hidup dengan interaksi pasar yang menghendaki tanpa adanya campur tangan Negara, merupakan model perekonomian yang hanya berorientasi pada akumulasi keuntungan belaka. Hal ini tentu mengingatkan kita pada sang Funding Father ekonomi pasar bebas Adam Smith yang terkenal dengan teori Invisible Handnya.
Bagi Adam Smith, ketika setiap individu diberikan kebebasan untuk mengembangkan capital yang dimilikinya maka ia akan dapat membantu kesejahteraan di sekitarnya. Gagasan tersebut pada akhirnya melembaga pada system pasar bebas yang kita kenal sampai sekarang ini, tentu dengan segala metamorfosa yang terjadi didalamnya.
Kita tentu masih ingat ketika tahun 1929 an perekonomian Amerika digulung oleh depresi ekonomi yang ditandai bdengan hancurnya daya beli masyarakat dan tingkat produksi yang melampai batas atau over. Kita pun ingat pada tahun 1990 an perekonomian Asia khususnya Indonesia dilanda krisis keungan yang hebat yang sejatinya tidak bias kita pisahkan dari kontribusi perekonomian Amerika dengan jatuhnya Industri keuangan raksasa saat itu yakni LTCM.
Dan di tahun 2000 an ini kita kembali di suguhi dengan keadaan serupa yakni krisis financial di Amerika yang berdampak pada situasi gelobal. Dari rentetan peristiwa besar ini, tentu muncul pertanyaan apa sebebarnya yang salah. Apakah semata prilaku individunya ataukan karena system perekonomian pasar bebas yang selazimnya dipertanyakan ulang relevansinya terhadap situasi saat ini.
Dalam hal ini, saya berpandangan bahwa mekanisme pasar bebas dengan ruh Laizzes Fair, harus dipertanyakan ulang relevansinya dalam konteks perekonomian dewasa ini. Dalam analisis Marxisme, fenomena kkekacauan dalam perekonomian kapitalisme adalaha sebuah keniscayaan tersendiri, sebab pada dasarnya system ekonomi kapitalistik tersebut sangat dipenuhi dengan kontradiksi-kontrdiksi internal system itu sendiri. Oleh karena itu, usaha perbaikan system ini pada dasarnya hanya sebagai solusi elementer dan sementara.
Hal ini, juga senada dengan apa yang dikatakan oleh George soror bahwa, jika krisis ekonomi ini ingin di atasi maka harus dibuatlah sebuah aturan main yang baru yang mengatur industri keuangan gelobal. Itu artinya system perekonomian pasar bebas dengan ruh Laizzes fairnya harus di evaluasi ulang relevansinya dalam memecahkan permasalahan ekonomi dewasa ini. Bias jadi peristiwa-peristiwa di atas adalah bukti bahwa Kapitalisme Laizzes Fair sudah tidak bias dipertahankan lagi.

Daftar Bacaan
Harian kompas, Jum’at, 4 April 2008, dalam “Ekonomi Menuju Titik Nadir”,h. 1 dan 15
Harian kompas, Jum’at, 4 April 2008, dalam “Menkeu ASEAN Bertemu”,h. 11

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s