REVITALISASI LAHAN PERTANIAN


REVITALISASI LAHAN PERTANIAN
MENUJU KETAHANAN PANGAN NASIONAL
Oleh : Muhammad Hambali

Beberapa pekan ini kita disuguhi berita baik dari media cetak maupun elektronik mengenai kenaikan harga pangan khususnya pada komoditas beras. Kenikan harga pangan tersebut bukan hanya terjadi di level pasar ASEAN namun juga pada level pasar Eropa dan Amerika.
Di pasar ASEAN harga beras dengan kualitas patahan sebesar 25 % tahun dulu (2007) adalah sebesar 330 dollar AS per ton. Pada bulan maret kemarin sudah sampai level 500 dollar AS per ton. Harga beras Vietnam dengan kualitas patahan 5% pecan lalu setersebut besar 550 dollar AS per ton. Sedangkan patahan 10% mencapai 540 dollar AS per ton. Sementara di India harga beras dengan patahan 5% menembus level 650 dollar AS per ton.
Di Argentian harga beras dengan patahn 10% sebesar 625 dollar AS per ton. Sedangkan di Uruguay mencapai 630 dollar AS per ton. Kualitas beras medium di pasar Asia rata-rata mengalami kenaikan sebesar 52%
Dengan realitas diatas, muncul pertanyaan bagaimanakah kebutuhan beras dalam negeri. Menurut kabulog Mustofa Abu Bakar kebutuhan beras dalam negeri untuk tahun ini adalah sebesar 2,8 sampai dengan 3 juta ton. Dengan total lahan pertanian yang ada, di perkirakan 2,4 juta ton dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri. Itu artinya kekeurangan setok beras dalam negeri adalah sebesar 600 ribu ton. Dengan asumsi harga beras di pasar ASEAN diatas (330 untuk kualitas patahan maksimal 25%) maka pemerintah harus mengeluarkan uang sebesar 198 ribu dolar AS.
Disisi lain dari tahun ketahun bila kita mencermati kebutuhan beras dalam negeri semakin meningkat namun tanpa dibarengi dengan pesatnya produksi beras dalam negeri. Sebagai perbandingan kebutuhan beras dalam negeri dari tahun 2002 sampai dengan 2006 dapat kita lihat dalam tabel sebagai berikut ini :
TAHUN KEBUTUHAN BERAS PRODUKSI BERAS IMPOR
2002 29.717.751 29.161.432 1.805.380
2003 30.198.678 29.528.379 1.428.506
2004 30.312.458 30.633.260 236.867
2005 30.599.356 30.668730 189.616
2006 30.898.438 31.008.427 122.525

Dari data Bulog hingga 19 Maret 2008 realisasi pembelian beras dalam negeri dari petani maupun mitra Bulog seperti para pengusaha penggilingan baru mencapai 148.000 ton dari total kontrak sebesar 237.000 ton. Pada tahun ini Bulog menargetkan pembelian beras dari dalam negeri sebesar 2,43 juta ton. Beras tersebut akan dipergunakan untuk rakyat miskin atau raskin, stabilisasi harga, antisipasi bencana, stok Bulog dan cadangan beras pemerintah.
Sementara itu, dengan melejitnya harga beras di pasar internasional membuat menteri perdagangan Mari Elka pangestu terpincut untuk mendorong pemerintah memanfaatkan momentum kenaikan harga tersebut devngan melakukan Ekspor. Menenggapi hal tersebut bagi kabulog Mustafa Abu Bakar pemerintah bias mengeluarkan kebijakan Ekspor beras manakala stok produksi dalam negeri telah terpenuhi minimal sebesar 3 juta ton.
Disisi lain, ketua dewan penasihat Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Siswono Yudo Hushodo menyatakan bahwa isu mengenai pangan termasuk dialamnya beras yang mahal harganya merupakan isu lama. Menurutnya kenaikantersebut dipicu oleh terjadinya peningkatan konsumsi daging dan susu dunia yang membuat pangan yang berbahan baku jagung dan kedelai naik. Selain itu hangatnya para pegiat bahan baker ramah lingkungan tau Biofoeul juga menjadi salah satu pemicu kenaikan harga pangan dunia ini termasuk di dalamnya beras.
Mensikapi hal tersebut Siswono menghimbau pemerintah agar tidak terlalu bergantung pada kebutuhan pagan dengan jalan mengimpor. Sudah saatnya pemerintah mengeluarkan policy yang bener-bener kearah perbaikan pangan dalam negeri. Selain itu, menurut Direktur Pelaksana Dana Monter Internasional (IMF) Dominique Strauss-Kahn
Naiknya harga-harga, terutama pangan, dapat menimbulkan konsekuensi yang mengerikan bagi dunia, termasuk risiko perang dan berbagai tindakan perlu diambil untuk mengendalikan inflasi gelobal.

Ulasan
Kenaikan harga pangan dunia saat ini, khususnya pada komoditas beras dengan berbagai penyebabnya haruslah mendapatkan perhatian serius dari pemerintah Indonesia. Dalam hal ini perhatian itu bias diwujudkan dengan mengubah policy pemerintah yang selama ini dinilai kurang berpihak pada sector ini khususnya sector pertanian.
Salah satu kongkritnya adalah dengan mengeluarkan kebijakan terhadap perlindungan lahan pertanian terhadap alih fungsi yang dewasa ini sangat merisaukan. Dalam catatan kompas pada tanggal 23 Maret 2008 kemarin, dari total lahan pertanian yang dimiliki oleh Indonesia yakni seluas 12 juta Hektar, dalam tiap tahunnya mengalami penyusutan dengan modus aling fungsi lahan menjadi perumahan dan kawasan industri pada tiap tahunnya seluas 50 ribu Hektar.
Bisa dibayangkan jika hal ini tidak diperhatikan dengan serius oleh pemerintah maka lama kelamaan lahan pertanian akan semakin menyusut, yang itu artinya akan mengancam terhadap ketersediaan pangan dalam negeri. Jika demikian maka pastilah rakyat kecil lagi-lagi yang akan menjadi korbannya.
Hal yang harus dilakuakan adalah pemerintah harus mengkhususkan diri pada perlindungan lahan pertanian, yakni dengan mengeluarkan undang-undang tentang perlindungan lahan pertanian sebagai upaya Revitalisasi lahan pertanian yang telah mengalami penyusutan dari tahun ketahun. Selain itu, perhatian pemerintah terhadap nasib petani haruslah ditingkatkan. Hal ini bisa melalui pemberian subsidi terhadap sector pertanian, baik berupa pengadaan pupuk dan biji benih. Di samping itu, ketidak berpihakan pemerintah terhadap petani juga nampak pada saat musim panen, hal ini ditandai dengan rendahnya harga jual yang harus diterima oleh petani.
Dari hal ini, bagi saya adalah wajar manakala para petani kita lebih tertarik alih profesi dari petani menjadi wiraswasta seperti buka warung di kota-kota besar. Jika demikian maka bila tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah maka jangan harap kebutuhan pangan dalam negeri akan tercukupi.

Daftar Bacaan
Kompas, 23 Maret 2008, dalam “Harga Pangan Di tunggu Stabil”, h. 17 rubrik Bisnis dan Keungan

Kompas, 23 Maret 2008, dalam “Beras Dunia Makin Mahal”, h. 1 dan 15

http://www.kompas.com, tanggal 13 April 2008

http://www.jawapos.com, Senin, 14 April 2008, dalam Krisis Pangan Akan Picu Perang

About these ads

3 comments on “REVITALISASI LAHAN PERTANIAN

  1. Ping-balik: 485860dba9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s