RELEVANSI PEMIKIRAN EKONOMI MUHAMMAD BAQIR ASH-SADR DALAM KONTEKS KEKINIAN


RELEVANSI PEMIKIRAN EKONOMI
MUHAMMAD BAQIR ASH-SADR DALAM KONTEKS KEKINIAN
Oleh: Muhammad Hambali

Abstrak
Sebagai salah satu ekonom muslim kontemporer dewasa ini, pemikiran

Marx Achmad

Marx Achmad

Baqir Sadr makin menemukan relevansinya dengan situasi perekonomian global dewasa ini. Gagasan bahwa kapitalisme adalah sistem yang semata-mata hanya berorientasi pada akumulasi kapital dan mengabaikan tata nilai di luar motif ekonomi secara tidak langsung mendapatkan dukungan dari ekonom konvensional. Tidak hanya itu, makna penting peran Negara di bidang ekonomi yang di gagas Sadr juga dapat ditemukan dalam gagasan ekonom konvensional yang salah satunya adalah mantan gubernur The Fed AS Alan Gleenspan. Walaupun demikian, dari kacamata ekonom muslim sendiri, gagasan Sadr di bidang ekonomi juga harus diletakkan dalam kerangka yang proporsional. Hal ini sebagaimana Timur Kuran nyatakan dalam kritiknya terhadap pemikiran ekonomi Sadr.

A. Pendahuluan
Tumbangnya raksasa Uni Soviet pada dekade 1990-an dalam satu sisi telah mematahkan hukum dialektika Marx yang menyatakan bahwa sistem kapitalisme akan mengalami kehancuran dengan sendirinya. Dengan kata lain, kehancuran sistem kapitalisme merupakan sesuatu yang niscaya dalam sejarah manusia. Bertolak dari fakta sejarah tersebut, tidak mengherankan jika Fukuyama dalam bukunya The And Of History menyatakan bahwa kemenangan kapitalisme dalam menjawab permasalahan sosial-ekonomi manusia, dianggap sebagai proses berhentinya sejarah manusia. Makna dari stetmen Fukuyama ini menandakan bahwa dunia dewasa ini tengah menggantungkan hidup pada satu sistem ekonomi saja yakni kapitalisme.
Sementara itu, jika melihat fakta-fakta yang terpampang dalam internal sistem kapitalisme, maka sudah saatnya lahir sebuah sistem alternative untuk menjawab permasalahan sosial-ekonomi manusia dewasa ini. Kelemahan dan kebobrokan sistem kapitalisme setidaknya telah terpampang dalam rentang sejarah kehidupan manusia melalui krisis ekonomi yang dimulai pada tahun 1866 dan 1890, 1929, 1985, 1987, 1998, dan 2000.
Berangkat dari fakta tersebut, sejumlah pakar ekonomi terkemuka mulai mengkritik dan mencemaskan kemampuan ekonomi kapitalisme dalam mewujudkan kemakmuran ekonomi di muka bumi ini. Bahkan cukup banyak klaim yang menyebutkan bahwa kapitalisme telah gagal sebagai sistem dan model ekonomi. Sejalan dengan hal tersebut, Anthony Gidden dalam bukunya The Thrid Way menyatakan dunia seyogyanya mencari jalan ketiga dari pergumulan sistem kakap dunia yakni kapitalisme dan sosialisme. Jalan ketiga tersebut, bagi Gidden terdapat dalam konsepsi Islam.
Oleh karena itu, dengan kegagalan sistem kapitalisme dalam mewujudkan kesejahteraan yang berkeadilan, maka menjadi keniscayaan bagi umat manusia untuk mendekonstruksi ekonomi kapitalisme menuju sistem ekonomi yang berkeadilan dan berketuhanan yang dalam hal ini tentu ekonomi Islam patut untuk dipertimbangkan sebagai salah satu alternative dalam merealisasikan kesejahteraan manusia.
Muhammad Baqir Ash-Sadr (selanjutnya disingkat Sadr) sebagai salah satu tokoh intelektual muslim kontemporer dewasa ini, hadir dengan gagasan original yang mencoba menawarkan gagasan sistem ekonomi Islam yang digali dari landasan doktrinal Islam yakni al-Qur’an dan al-Hadis. Sadr tidak sepakat bahwa ekonomi Islam adalah sistem ekonomi yang sama seperti sistem ekonomi sebelumnya seperti kapitalisme dan sosialisme.
Dari paparan di atas, makalah ini bermaksud mendiskripsikan korelasi pemikiran ekonomi Baqir Sadr dengan situasi kekinian. Terdapat beberapa fokus pembahasan dalam makalah ini yang meliputi pertama, Pokok pikiran ekonomi Baqir Sadr Kedua, relevansi pemikiran ekonomi Baqir Sadr dengan kekikinian. Ketiga, Kritik pemikiran ekonomi Baqir Sadr.
B. Pokok Pemikiran Ekonomi Baqir Sadr
1. Definisi Ekonomi Islam (Proses Penggalian Doktrin Ekonomi Islam)
Dalam mendefinisikan ekonomi Islam, Baqir Sadr mencoba memberikan sebuah intepretasi baru yang bisa dikatakan original. Pendifinisian tersebut di mulai dari membangun kerangka dasar dengan membuat perbedaan yang signifikan antara ilmu ekonomi dan doktrin ekonomi.
Menurut Sadr, ilmu ekonomi merupakan ilmu yang berhubungan dengan penjelasan terperinci perihal kehidupan ekonomi, peristiwa-peristiwanya, gejala-gejala (fenomena-fenomena) lahiriahnya, serta hubungan antara peristiwa-peristiwa dan fenomena-fenomena tersebut dengan sebab-sebab dan faktor-faktor umum yang memepengaruhinya.

Sedangkan doktrin ekonomi adalah cara atau metode yang dipilih dan diakui oleh suatu masyarakat dalam memecahkan setiap problem praktis ekonomi yang dihadapinya. Dari hal ini, Sadr selanjutnya menyatakan bahwa perbedaan yang signifikan dari kedua terminilogi di atas adalah bahwa doktrin ekonomi berisikan setiap aturan dasar dalam kehidupan ekonomi yang berhubungan dengan ideologi seperti nilai-nilai keadilan. Sementara ilmu ekonomi berisikan setiap teori yang menjelaskan realitas kehidupan ekonomi yang terpisah dari kerangka ideologi. Nilai-nilai keadilan inilah yang bagi Sadr sebagai tonggak pemisah antara gagasan doktrin ekonomi dengan teori-teori ilmiah ilmu ekonomi.
2. Karakteristik Ekonomi Islam
Beberapa karakteristik yang melekat dalam sistem ekonomi Islam antara lain:
a. Konsep Kepemilikan Multi Jenis (Multitype Ownership)
Dalam pandangan Sadr, ekonomi Islam memiliki konsep kepemilikan yang dikatakan sebagai kepemilikan multi jenis. Bentuk kepemilikan tersebut dirumuskan dalam 2 kelompok yakni bentuk kepemilikan swasta (private) dan kepemilikan bersama yang terbagi menjadi dua bentuk kepemilikan yakni kepemilikan publik dan kepemilikan Negara.
b. Pengambilan Keputusan, Alokasi Sumber dan Kesejahteraan Publik.
Fakta bahwa pemilikan Negara mendominasi sistem ekonomi Islam, pada akhirnya mendorong lahirnya sebuah gagasan bahwa peran pemerintah dalam bidang ekonomi sangatlah penting. Dalam hal ini, beberapa fungsi pokok pemerintah di bidang ekonomi antara lain :
1. Mengatur sistem distribusi kekayaan berdasarkan pada kemauan dan kapasitas kerja masing-masing individu dalam masyarakat.
2. Mengintegrasikan aturan hukum Islam dalam setiap penggunaan dan pengelolaan sumber daya alam.
3. Membangun sistem kesejahteraan masyarakat melalui terjaminnya keseimbangan sosial dalam masyarakat.
c. Larangan Riba dan Pengimplementasian Zakat
Sebagaimana pemikiran ekonom muslim lain, Sadr juga berpendapat bahwa riba adalah sesuatu yang harus dijauhkan dari interaksi ekonomi masyarakat. Sedangkan zakat merupakan instrument setrategis yang dapat membantu merealisasikan kesejahteraan di tengah-tengah kehidupan masyarakat.
3. Pandangan Islam Tentang Masalah Ekonomi.
Menurut Sadr, masalah-masalah ekonomi lahir bukan disebabkan oleh kelangkaan sumber-sumber material ataupun terbatasnya kekayaan alam. Hal ini didukung dengan dalil al-Qur’an S. al-Qomar: 49 yang menyatakan “Sesungguhnya kami menciptakan segala sesuatu menurut ukurannya”. Dari ayat tersebut yang kemudian diperkuat dalam al-Qur’an S. Ibrahim :32-34, Sadr berpendapat bahwa permasalahan ekonomi muncul kareana disebabkan oleh dua faktor yang mendasar. Pertama adalah karena prilaku manusia yang melakukan kezaliman dan kedua karena mengingkari nikmat Allah SWT.
Dari kedua aspek tersebut, Sadr menyimpulkan sebagai salah satu faktor yang dominan yang menjadi akar lahirnya permasalahan ekonomi dalam kehidupan manusia, bukan karena akibat terbatasnya alam atau karena ketidakmampuan alam dalam merespon setiap dinamika kebutuhan manusia. Menurut Sadr, masalah tersebut hanya dapat teratasi dengan mengakhiri kedzaliman dan keingkaran manusia. Salah satu cara yang ditawarkan Sadr adalah dengan menciptakan hubungan yang baik antara distribusi dan mobilisasi segenap sumber daya material untuk memakmurkan alam serta menyibak segala kekayaan.
4. Teori Produksi
Dalam aktivitas produksi Sadr, mengklasifikasi dua aspek yang mendasari terjadinya aktivitas produksi. Pertama adalah aspek obyektif atau aspek ilmiah yang berhubungan dengan sisi teknis dan ekonomis yang terdiri atas sarana-sarana yang digunakan, kekayaan alam yang diolah, dan kerja yang dicurahkan dalam aktivitas produksi. Aspek obyektif ini berusaha untuk menjawab masalah-masalah efisiensi teknis dan ekonomis yang berkenaan dengan 3 pertanyaan dasar yang terkenal dengan istilah The Three Fundamental Economic Problem yang meliputi what, how dan for whom.
Kedua adalah aspek subyaktif . Yaitu aspek yang terdiri atas motif psikologis, tujuan yang hendak dicapai lewat aktifitas produksi, dan evaluasi aktivitas produksi menurut berbagai konsepsi keadilan yang dianut. Sisi obyektif aktivitas produksi adalah subyek kajian ilmu ekonomi baik secara khusus maupun dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan lainnya guna menemukan hukum-hukum umum yang mengendalikan sarana-sarana produksi dan kekayaan alam supaya dalam satu kondisi manusia dapat menguasai hukum-hukum tersebut dan memanfaatkannya untuk mengorganisasi sisi obyektif produksi secara lebih baik dan lebih sukses.
Selain itu, menurut Sadr sumber asli produksi dijabarkan dalam tiga kelompok yang terdiri atas alam, modal dan kerja. Adapun sumber alam yang dipergunakan untuk aktivitas produksi Sadr membaginya kembali ke dalam tiga kelompok, yakni tanah, substansi-substansi primer dan aliran air.
5. Distribusi Kekayaan
Dalam pemikiran Sadr, distribusi kekayaan berjalan pada dua tingkatan, yang pertama adalah distribusi sumber-sumber produksi dan yang kedua adalah distribusi kekayaan produktif. Pokok pikiran yang di maksud Sadr, sebagai sumber-sumber produktif adalah terkait dengan tanah, bahan-bahan mentah, alat-alat dan mesin yang dibutuhkan untuk memproduksi beragam barang dan komoditas.
Sedangkan yang termasuk dengan kekayaan produktif hasil dari proses pengolahan atau hasil dari aktivitas produksi melalui kombinasi sumber-sumber produsi yang di hasilkan manusia melaui kerja. Berkenaan dengan ini pula, maka prinsip-prinsip menjaga adilnya sirkulasi kekayaan dan keseimbangan harta di tengah-tengah kehidupan masyarakat juga masuk dalam konsepsi Sadr sebagaimana pemikiran ekonomi Islam lainnya.
6. Tanggung Jawab Pemerintah Dalam Bidang Ekonomi
Menurut Sadr, fungsi pemerintah dalam bidang ekonomi terdapat beberapa tanggung jawab. Tanggung jawab atau fungsi pemerintah dalam bidang ekonomi tersebut antara lain berkenaan dengan pertama, penyediaan akan terlaksananya Jaminan Sosial dalam masyarakat, kedua berkenaan dengan tercapainya keseimbaangan sosial dan ketiga terkait adanya intervensi pemerintah dalam bidang ekonomi.

C. Relevansi Pemikiran Baqir Sadr Konteks Kekinian
Keterpurukan ekonomi yang melanda situasi dunia saat ini, tidak lain adalah berkah dari sisten kapitalisme yang semata-mata berorientasi pada akumulasi kapital yang tengah mengabaikan beberapa faktor penting dalam kehidupan, baik faktor nilai-nilai moral maupun aspek kehati-hatian yang pupulis dengan menejemen resiko dalam diskursus ilmu ekonomi.
Transaksi derivatif yang menjadi awal krisis dewasa ini adalah fakta konkrit yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun bahwa memperoleh keuntungan dengan jalan spekulasi yang dalam pemikiran Sadr secara khusus dikenal sebagai praktek riba adalah semata-mata akan mendatangkan kemadlorotan bagi manusia. Hal ini selaras dengan ekonom konvensional yang sekaligus mantan gubernur The Fad Alan Gleenspan yang menyatakan bahwa tingkat suku bunga rendah yang dalam satu sisi sebagai piranti untuk mengelolah inflasi dalam kenyataannya melahirkan Bubble Economic yang dalam waktu tidak lama akan melahirkan dampak krisis ekonomi yang luar biasa.
Di sisi lain, peran pemerintah di bidang ekonomi dewasa ini cenderung mengamini paham laissez Faire yang menjadi ruh mekanisme pasar sistem kapitalisme. Padahal jika dilacak akar lahirnya sebuah negara adalah bermula dari adanya kontrak sosial antara masyarakat dengan negara. Dalam hal ini, masyarakat merelakan sebagian haknya untuk dibatasi dalam tata kehidupan bernegara yang bertujuan untuk mendapatkan perlindungan dan kesejahteraan dalam hidup.
Teori kontrak sosial tersebut sebagaimana JJ Rosseuo kemukakan nyatanya di bawah sistem kapitalisme pasar tidak mendapatkan tempat yang cukup berarti. Hal yang berbalik dengan pemikiran Sadr tentang peran dan tanggung jawab negara di bidang ekonomi. Bagi Sadr, negara sangat jelas harus berperan aktif dalam menentukan arah kebijakan dan melakukan pengawasan terhadap interkasi ekonomi dalam suatu negara. Institusi hisbah (pengawasan) yang menjadi konsensus Sadr secara khusus merupakan bukti konkrit akan hal ini.
Sementara itu, jika Sadr secara jelas menyatakan bahwa paradigma sistem kapitalisme yang hanya berorientasi pada akumulasi kapital semata, sebagaimana dewasa ini nampak di kehidupan sehari-hari, dan mengabaikan peran nilai-nilai di- luar kepentingan ekonomi, hanya akan berakhir pada ketidak seimbangan ekonomi dalam masyarakat. Hal ini selaras dengan pandangan Karl Marx yang menyatakan bahwa sistem kapitalisme merupakan sistem yang di penuhi oleh sifat negatif. Sifat negatif tersebut dalam kenyataannya menguasai sifat positif dari kapitalisme. Oleh karena itu, pembaharuan dan reformasi dalam sistem kapitalisme tidak akan mampu menghilangkan sifat dasar negatif tersebut.
Di sisi lain , gagasan Sadr tentang pemerataan kekayaan yang mengharuskan adanya sirkulasi harta baik pada domain lokal maupun transnasional juga selaras dengan kritikan Kevin Danaher dalam bukunya ”10 Reason Abolish IMF And World Bank” terhadap kebusukan sistem kapitalisme lewat jejaring 2 institusinya IMF dan World Bank. Menurut Kevin Danaher mengutip data dari The United Nations Development Program (UNDP), bahwa sebanyak 20% kaum kaya di dunia tengah menikmati 86 % sumber kekayaan dunia, sedangkan 80 % penduduk miskin di dunia hanya menikmati 14 % sumber kekayaan dunia. Betapa ini merupakan sebuah ketimpangan yang tengah dihasilkan oleh sistem kapitalisme yang ironisnya diterapkan hampir di seluruh belahan negara di dunia ini.
Pandangan serupa juga dapat diketemukan dalam pemikiran Fritjof Capra dalam bukunya ”the Hidden Conections” sebuah gagasan yang mencoba menawarkan sebuah strategi melawan kapitalisme baru. Menurut Capra, berbagai sistem terpadu yang mengitegrasi dimensi biologis, kognitif, dan sosial dari kehidupan dan memperlihatkan bagaimana pemahaman ini akan sangat penting bagi keberlangsungan hidup manusia. Dunia dewasa ini bagi Capra, sedang dihadapkan pada dua perkembangan yang sangat mempengaruhi manusia. Dua hal tersebut yakni kapitalisme global dan perencanaan Ecodesign sedang dalam posisi yang saling bertabrakan. Oleh karena itu, bagi Capra yang harus dilakukan oleh manusia sekarang adalah mengubah tata nilai yang mendasari sistem perekonomian global dewasa ini.
Tidak jauh dengan pandangan Capra, Anthony Gidden dalam bukunya The Thrid Way menyatakan dunia seyogyanya mencari jalan ketiga dari pergumulan sistem kakap dunia yakni kapitalisme dan sosialisme. Tumbangnya Komunisme Soviet Rusia dalam satu sisi juga telah mengisyaratkan akan ketidakberdayaan sistem kakap dunia, sosialisme dan kapitalisme dalam memecahkan problem ekonomi yang di hadapi oleh manusia. Senada dengan hal ini, Francis Fukuyama melalui The And Of History juga mengungkap hal yang sama. Dalam hal ini Gidden menyatakan, sistem alternatif adalah salah satu kunci untuk keluar dari permasalahan tersebut.
Kehadiran sistem alternatif baru tersebut bukanlah gagasan awam, tetapi mendapat dukungan dari ekonom terkemuka di dunia yang mendapat hadiah Nobel 1999, yaitu Joseph E.Stiglitz. Bersama Bruce Greenwald, Stiglitz menulis buku “Toward a New Paradigm in Monetary Economics” mencoba menawarkan paradigma baru dalam ekonomi moneter. Dalam buku tersebut mereka mengkritik teori ekonomi kapitalis (konvensional) dengan mengemukakan pendekatan moneter baru yang entah disadari atau tidak merupakan sudut pandang ekonomi Islam di bidang moneter, seperti peranan uang, bunga, dan kredit perbankan.

D. Kritik Terhadap Pemikiran Baqir Sadr
Beberapa kritik yang muncul terhadap pemikiran ekonomi Sadr antara lain berasal dari Timur Kuran yang dalam perkembangannya menjadi salah satu trend pemikiran ekonomi Islam kontemporer. Dalam hal ini, tentu jika dipetakan pemikiran ekonomi Islam kontemporer dapat diidentifikasi ke-dalam tiga aliran utama.
Pertama, aliran Baqir Sadr. Aliran pemikiran ini merujuk pada pokok pikiran Sadr dalam ekonomi terutama yang tertuang dalam kitab Iqtishoduna. Aliran ini berusaha membangaun konsep ekonomi Islam yang benar-benar berbeda sebagaimana di atas telah di ulas bagaimana Sadr membangun kerangka dasar pikiran ekonominya.
Kedua, aliran maenstrem yang dipelopori oleh MA. Mannan. Aliran ini membangaun kerangka pikir ekonomi Islamnya dengan pola pendekatan ekletisme. Dalam hal ini, beberapa konsep pemikiran ekonomi yang berasal dari barat mencoba di daur ulang dengan jalan menselaraskannya dengan ajaran Islam seperti membuang unsur riba dan memasukkan unsur zakat dan niat dalam interaksi ekonomi.
Ketiga, aliran alternative kritis yang dipelopori oleh DR. Timur Kuran. Aliran ini berpendapat bahwa bukan hanya sistem sosialisme dan kapitalisme saja yang harus mendapatkan kitik dan analisa, namun juga beberapa pemikiran ekonomi Islam yang muncul. Aliran ini, berpendapat bahwa Islam adalah agama yang benar dan mutlak adanya namun pemikiran ekonomi Islam adalah dua hal yang berbeda. Oleh karena itu, pemikiran ekonomi Islam juga harus tetap di kritisi.
Salah satu kritik yang dilakukan aliran alternative Kritis ini adalah mengkritik pemikiran ekonomi Sadr yang di anggap bahwa sesuatu yang di katakan oleh aliran Sadr sebagai upaya penggalian dan penemuan sistem ekonomi Islam yang benar-benar baru pada dasarnya sudah ditemukan oleh sistem ekonomi konvensional. Oleh karena itu, bagi aliran ini apa yang dilakukan oleh Sadr dengan mengklaim telah menemukan sistem ekonomi yang murni dan berbeda dengan sistem konvensional harus tetap dikaji secara proporsional sebagaimana kita mengkaji sistem kapitalisme dan sosialisme

One comment on “RELEVANSI PEMIKIRAN EKONOMI MUHAMMAD BAQIR ASH-SADR DALAM KONTEKS KEKINIAN

  1. asslm pak…terimakasih telah memuat tulisan yang baik dan sedemikian terperinci. salut saya untuk sekian banyak rujukan yang anda gunakan dalam tulisan ini.
    Namun ada satu hal yang masih mengganjal benak saya. Bila (katakanlah) islam jelas menetang prinsip ekonomi kapitalis. Semisal dapat kita lihat secara tersirat dari ayat yang berbunyi bekerjalah seolah-olah kamu akan hidup seribu tahun lagi. Memang islam tak pernah mengajarkan umatnya utk rakus.
    Namun yang agak sedikit kurang saya pahami disini, bagaimana perbedaan yang signifikan antara ekonomi islam dg ajaran sosialis ala marx?
    bukankah dari ajaran marx tersebut kita dapat menarik esensi tentang bbetapa pentingnya gotong-royong dlm suatu negara yang jelas-jelas sangat diperintahkan oleh ALlah SWT…
    terimakasih atas jawabannya. semoga menjadi pencerahan bagi saya…amin. wass

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s