SPIRIT RAMADHAN UNTUK PEMBANGUNAN BANGSA


Ramadhan telah tiba, tahun ini kita masuk pada Ramadhan 1431 H. Seluruh umat manusia terkhusus umat Islam mendambakan kedatangan bulan penuh berkah ini. Bukan rahasia bahwa dalam bulan Ramadhan Allah menjajikan jalan-jalan kemudahan bagi pemulihan jiwa setiap insan manusia yang telah tercebur dalam pergulatan dunia fana. Oleh karena itu, wajar jika bulan Ramadhan memiliki sejuta nama terkait hikmah yang terkandung didalamnya. Syahrur mubarok (bulan berkah), syahrur rahmah (bulan kasih sayang Allah), syaidus syuhur (bulan termulia), syahrur maghfiroh (bulan pengampunan) merupakan nama-nama lain dari bulan Ramadhan
Dari sisi kualitas keimanan, pada bulan Ramadhan, grafik keimanan umat Islam relatif mengalami kenaikan yang sangat drastis dibandingkan dengan kondisi keimanan pada 11 bulan lainya. Betapa tidak, kita semua menyadari bahwa pada bulan Ramadhan ini seperti yang diatas di singgung Allah telah menyediakan jalan kemudahan bagi manusia, semisal dengan dilipat gandakannya pahala amal ibadah. Sampai-sampai tidurnya orang pada bulan Ramadhan pun dikalsifikasikan sebagai ibadah. Fakta ini adalah fakta nyata yang telah mendorong umat Islam untuk berlomba-lomba mengapai setinggi-tingginya pahala yang dijanjikan oleh Allah SWT.
Perlu diingat pula bahwa banyak hal yang harus kita pelajari dari bulan Ramadhan. Hal ini penting, sebab tanpa adanya kesadaran untuk mencerna hikmah Ramadhan, kita hanya akan terjebak pada ritual belaka. Terdapat beberapa pelajaran berharga yang bisa kita petik dalam pelaksanaan ibadah Ramdhan antara lain pertama terciptanya bangunan empati sosial yang tinggi. Kedua terbangunnya ukhwah atau jalinan persaudaraan umat. Ketiga terbangunnya karakter umat ( akhlaq ). Keempat terbangunnya jiwa yang sabar dan jujur. Empat poin tersebut adalah hikmah yang paling tidak bisa kita petik dari momentum pelaksanaan ibadah Puasa Ramadhan.
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apa korelasinya dengan pembangunan bangsa. Ya pertanyaan tersebut akan menjadi topik bahasan kita. Kawan! Bulan ini kita telah masuk pada bulan Agustus. Semua orang paham bahwa bulan Agustus bagi rakyat Indonesia adalah momentum yang di tunggu-tunggu sekaligus bulan yang bersejarah. Pasalnya pada bulan ini, bangsa kita merayakan hari kemerdekaannya. Tahun ini kita telah mengenyang atmosfir kemeerdekaan 65 tahun.
Sebuah umur yang sudah tua bagi manusia, ya 65 tahun!. Pertanyaan yang kita ajukan adalah sebarapa jauh kita telah mampu memaknai dan mengisi kemerdekaan ini ? pertanyaan yang sepele tapi menggelitik pikiran waras kita untuk membedah jawabannya. Yang paling umum adalah jika kita kritis mensikapi kondisi bangsa saat ini, maka apa yang tergambarkan dalam kehidupan kita saat ini baru sekedar pemahaman kulit akan hakekat kemerdekaan yang kadangkala kita terjebak pada nuansa seremonial belaka tanpa mengerti makna yang terkandung didalamnya.
Apakah kegiatan seremonial tidak penting dalam memaknai kemerdekan 17 Agustus 1945? Tentunya hal tersebut penting tapi bukanlah yang utama dan pertama. Sebab, seperti yang di atas telah di singgung bahwa bangsa kita kadangkala terjebak pada ritual seremonial belaka, seperti kegaiatan lomba-lomba dan yang lainya. Kegaiatan itu semua, sekali lagi adalah penting tapi tidak hanya berhenti pada upaya mengisi kemeriahan saja tanpa mengerti hakekat terdalam dari kemerdekaan tersebut.
Kawan! Lalu apa sebenarnya hakekat kemerdekaan bagi bangsa?. Secara normatif bisa kita katakan bahwa hakekat kemerdekaan adalah mampunya suatu bangsa untuk mengebangkan dan mengekspresikan seluruh potensi tanpa adanya tekanan, interfensi dari negara manapun dalam seluruh lini kehidupan. Apakah sosial, budaya, politik, hukum dan ekonomi. Pendek kata, kemerdekaan hakiki adalah berdaulatnya suatu bangsa untuk mengatur kehidupan negarnya sendiri.
Bercermin dari aturan normatif tersebut, bisa jadi bangsa kita belum sepenuhnya merdeka. Barangkali 65 tahun yang lalu kita dijajah secara fisik oleh bangsa lain dengan persenjataan militer, namun bisa jadi model penjajahan era sekarang adalah tidak melalui jalur pertempuran fisik namun melaui jalur damai yang dalam kenyataanya jauh destruktif (kehancuran) akibatnya. Jalur-jalur tersebut seperti lewat penguasaan ekonomi, politik, hukum, dan budaya.
Lewat ekonomi kita melihat kekuasaan asing di Indonesia saat ini sudah pada level yang merisaukan. Sektor-sektor fital perekonomian bangsa sebagian besar dalam jejaring kekuasaan asing, simaklah dunia perbankkan, tambang mineral dari miyak bumi, tembaga, sampai emas semuanya dalam cengkraman kuasa asing. Kenyataan tersebut bertolak belakang dari amanat konstitusi pasal 33. Di bidang hukum, pola penegakan hukum kita di samping menunjukkan kemajuan yang pesat, namun juga masih meninggalkan sepenggal stigma negatif akan independensi penegakan hukum kita. Simaklah kasus hari ini terkait permasalahan terosrisme. Nasib serupa juga tidak kalah dalam wilayah politik dan budaya.
3 elemen penting dalam pembangunan bangsa yang sejatinya harus diwujudtkan secara optimal oleh negara, nyatanya di usia yang ke-65 tahun pun belum memampakkan hasil yang nyata. Ketiga hal tersebut adalah Pertama law inforcement (penegakan Hukum), kedua good goverment (pemerintahan yang bersih) dan pemerintahan yang demokratis. Dari ketiga elemen tersebut hampir belum ada pencapaian yang menggembirakan bagi bangsa kita.
Melalui spirit Ramadhan ini, semoga semua kalangan khususnya para pejabat pemerintahan dan umumnya seluruh rakyat Indonesia, mampu mengambil hikmah dari pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan yang berwujud pada peningkatan kualitas hidup rakyat Indonesia, yang ditandai oleh peningkatan pelanyanan publik (kesehatan, pendidikan), transparansi, terbukanya akses publik bagi seluruh komponen bangsa, kejujuran, keadilan, dan rasa ukhwah atau persatuan bangsa.
Semoga Ramadhan kali ini menjadi ramadhan yang berkah bagi kita, bukan hanya sebatas pengetahuan dan ritual seremonial belaka, namun menjadi Ramadhan yang penuh makna yang mampu mengubah prilaku dan cara pandang kita terhadap dunia yang nyata. Sekali merdeka tetap merdeka! Sekali kapal berlayar patang surut untuk kembali. Jayalah Indonesia! AMIIN-AMIIN YAA MUJIBUSSAILIIN! (h43m)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s