PENTINGNYA PENGUATAN KARAKTER BANGSA


PENTINGNYA PENGUATAN KARAKTER BANGSA
Oleh : Muhammad Hambali

Menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Atas dasar itu, maka pendidikan nasional memiliki tujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Apa yang dikatakan oleh undang-undang di atas, nampak sangat jelas bahwa pendidikan saat ini, tidak hanya berorieantasi pada kecakapan intelektual saja, namun juga berorientasi pada kecakapan emosional spiritual. Jika demikian maka seyogyanya pola pembalajaran sekarang harus balance antara materi yang berorientasi pada kecakapan intelektual yang notabene pada aspek kognitif sentris dengan materi yang berorientasi pada kecakapan emosional-spiritual.

Keduanya harus terintegrasi dalam pola pembelajaran. Sebab dengan terintegrasinya dua hal tersebut, maka apa yang menjadi tujuan pendidikan nasional di atas dapat tercapai. Selama ini, jika kita menilik pada praktek pendidikan kita, nyatanya masih timpang bahkan berdiri sendiri. Oleh karena itu, gagasan pentingnya penguatan karakter bangsa menjadi satu kesatuan yang harus diperhatikan oleh seluruh komponen penyelenggara pendidikan.

Beberapa kasus yang sempat mencuat kepermukaan semisal tragedi pengucilan kelompok masyarakat terhadap upaya penegakan kejujuran adalah fakta nyata yang tidak bisa dipungkiri oleh semua pihak bahwa pendidikan sekarang masih berorientasi pada keunggulan kognitif alias kecakapan intelektual semata yang secara bersamaan kondisi tersebut mengidikasikan bahwa masyarakat seakan-akan apatis terhadap tegaknya nilai-nilai kejujuran dalam kehidupan.

Orang bijak seringkali memberikan petuah, bahwa kejujuran merupakan modal penting bagi seseorang untuk hidup di tengah masyarakat. Bahkan jika kita menilik pada ajaran agama, kita diperintahkan untuk berkata jujur walaupun hal tersebut pahit atau menyakitkan. Apalah daya, hal tersebut seakan hanya tinggal petuah belaka yang kehilangan makna sebab, masyarakat telah dijejali dengan kenikmatan material sesaat. Alangkah ironis negara kita, jika apa yang nampak beberapa saat yang lalu (a priori terhadap kejujuran, kebersamaan dan berbagai hal lainnya) tersebut menjadi wujud nyata dari bangsa Indonesia.

Oleh karena itu, dalam rangka penguatan karakter bangsa tersebut maka beberapa aspek yang harus diperhatikan adalah pertama merekstruturisasi model pembelajaran di sekolah dari model kognotif sentris menuju model penguatan kecakapan emosional-spiritual. Ajaran kejujuran, akhlaq tidak hanya didapatkan peserta didik dari mata pelajaran agama dan PKn saja, namun juga harus didapatkan pada mata pelajaran lainnya.
Kedua pentingya keteladanan baik dari pendidik maupun lingkungan masyarakat. Hal ini yang barang kali saat ini menjadi satu hal yang sangat jarang kita jumpai dalam kehidupan. Padahal efektifitas pembelajaran sangat ditentukan oleh yang namanya keteladanan tersebut. Hal tersebut juga yang diperintahkan oleh ajaran agama kita sebagaimana Rasul Muhammad SAW telah mencontohkannya pada umat manusia.

Ketiga penguatan civil society dalam upaya penegakan kejujuran, keadilan dan kebersamaan. Peran masyarakat sipil sangat penting daam membangun penguatan karakter bangsa, sebab hanya dengan partisipasi aktif dari kalangan civil society lah penguatan karakter bangsa dapat mudah tercapai. Pada tingkatan institusi pendidikan semisal kita mengenal apa yang namanya komite sekolah. Keberadaannya menjadi satu bagian yang takterpisahkan dalam upaya memajukan pendidikan nasional.

Keempat tegaknya ulil amri yang dalam hal ini adalah para elit pemerintahan, yang senantiasa memegang teguh amanah dan sifat-sifat nubuwah (kenabian) seperti sidiq, amanah, tablig, dan fathonah. Saat ini, mungkin elit penguasa yang sejatinya memberikan ketaladanan bagi masyarakat, nyatanya bertolak belakang dengan harapan masyarakat. Korupsi yang merajalela, lemahnya penegakan hukum merupakan fakta nyata yang harus dilihat dan dipahami oleh anak didik kita.

Pertanyaannya kemudian adalah sampai kapan bangsa ini harus begini. Sudah saatnya menyatakan tidak untuk ketidak jujuran dan berbagai iming-iming setan durjana. Lantas harus mulai dari mana? Jawabnya tentunya mulai dari pribadi kita masing-masing. Semoga bangsa Indonesia kedepan menjadi bangsa yang bermartabat bangsa yang menjunjung hukum bukan hanya bangsa yang pandai mengkonstruksi (melahirkan) hukum, namun tidak pernah tulus dan jujur dalam menegakkan hukum. Amiin-amiin yaa mujibussailiin.(Ham)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s