“MENSIKAPI BERBAGAI ALIRAN DALAM ISLAM”


MENSIKAPI BERBAGAI ALIRAN DALAM ISLAM”

(Prinsip-prinsip dasar Islam dalam tataran keilmuan dan praktis)

Islam sebagai agama universal, bukan hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan (hablum minallah/vertikal) melainkan juga mengatur hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas/horizontal). Manusia diciptakan Allah SWT. semata-mata untuk beribadah. Hal ini, ditegaskan  dalam Al-qur’an S. adz-Dzariyat : 56 yang berbunyi :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ(الذريات : 56)

Artinya :”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”.(QS. Adz-Dzariyaat : 56)[1]

Menurut para ulama, makna “ibadah” dalam ayat tersebut, memiliki dua macam makna. Pertama ibadah yang menyangkut hubungan manusia dengan Allah SWT yang selanjutnya dikenal dengan istilah “Ibadah Mahdhah” dan kedua ibadah yang menyangkut hubungan manusia dengan manusia dan manusia dengan alam sekitarnya yang selanjutnya di kenal dengan istilah “Ibadah Ghairu Mahdhah”.[2]

Firqah atau aliran pemikiran teologi dalam prespektif Islam merupakan satu fakta nyata dalam sejarah Islam. Menurut Harun Nasution lahirnya aliran teologi dalam Islam berawal dari peristiwa politik antara Ali Bin Abi Thalib dengan kelompok Muawiyah Bin Abi Sufyan. Dari  peristiwa politik ini, lahir aliran pemikiran teologi yang dikenal dalam sejarah yakni Syi’ah dan Khawarij.

Oleh karena itu, sejatinya kemunculan aliran-aliran dalam Islam adalah bukan sesuatu yang aneh dan baru lagi. Atas dasar itu penting kiranya jika dalam mensikapi keberadaan aliran-aliran tersebut pedoman dasar yang berisikan ajaran Tauhid dan Syari’at yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW menjadi parameter dalam mensikapi apakah aliran-aliran tersebut sejalan atakah sebaliknya bertentangan dengan ajaran pokok Islam.

A.  Aliran Teologi Dalam Islam

Menurut Harun Nasution “Permasalahan yang pertama muncul dalam Islam bukanlah permasalahan yang berbasiskan pada persoalan teologi namun, permasalahan politik”. Permasalahan politik tersebut dalam perjalanannya berubah menjadi permasalahan Teologi. Ketika Rasul Muhammad SAW. Wafat (632 M), para sahabat disibukkan dengan pembahasan mengenai pengganti Rasul sebagai kepala negara, Sehingga pemakaman Nabi adalah permasalahan kedua. Dari hal ini lahir permasalahan khilafah.

Perseteruan antara Ali Bin Abi Thalib dengan Muawiyah Bin Abi Sufyan merupakan titik balik dari pergeseran permasalahan politik menjadi permasalahan Teologi. Perseteruan tersebut, diselesaikan dalam perang Shifin yang dimenangkan oleh kelompok Muawiyah dengan jalan Tahkim atau Arbitrase. Kelompok Ali di wakili Abu Musa al-Asy’ari sedangkan kelompok Muawiyah diwakili Amr Ibn al-’As. Peristiwa Tahkim tersebut, menguntungkan pihak Muawiyah, sebab penjatuhan Ali Bin Abi Thalib sebagai Khalifah yang Sah dan Muawiyah sebagai  gubernur Damaskus yang memberontak, hanya penjatuhan Ali yang disepakati oleh Amr Ibn As melalui strategi diplomasinya.

Dampak dari peristiwa tahkim tersebut menjadikan Kubu Ali Bin Abi Thalib terpecah menjadi  3 golongan yakni:

  1. Golongan Pendukung Ali Bin Abi Thalib, terkenal dengan nama Syiah
  2. Golongan Yang menyatakan keluar dari kelompok Ali, terkenal  dengan nama Khawarij
  3. Golongan yang menjauhkan diri dari golongan Syi’ah   dan golongan Khawarij, terkenal dengan nama golongan Murjiah

Kaum Khawarij berpandangan bahwa Sikap Ali yang menerima tipu muslihat dari Amr Bin As adalah salah, sebab putusan yang sah hanya datang dari Allah SWT melalui hukum-hukumnya dalam al-Qur’an. Menurut Khawarij  “la Hukma illa lillah” (tidak ada hukum selain dari Allah). Kaum Khawarij berpandangan Ali Bin Abi Thalib, Muawiyah, Amr Bin AS, Abu Musa Al-Asy’ari dan seluruh orang yang menerima Arbitrase adalah berdosa  besar dan Kafir dalam arti keluar dari Islam dan harus di bunuh. Pandangan ini bertolak pada Surat al-Maidah:44 yang menyatakan:

Artinya : “Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara Kitab-Kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”. (QS. Al-Maidah : 44)

Persoalan Dosa besar seperti pandangan kaum Khawarij di atas, selanjutnya bergeser menjadi permasalahan Teologi. Dalam perkembangan selanjutnya persolan Dosa Besar  (murtakib al-kabir) mempunyai pengaruh besar dalam pertumbuhan aliran Teologi dalam Islam. Permasalahan utamanya adalah “ bagaimanakah status orang yang berdosa besar, apakah mukmin ataukah kafir

Dari persolan murtakib al-kabir  lahir beberapa aliran teologi. Aliran tersebut adalah :

Aliran Khawarij yang berpandangan bahwa orang berbuat dosa besar adalah kafir dan wajib di bunuh. Aliran Murji’ah yang berpendapat bahwa orang berdosa besar tetap masih mukmin dan bukan kafir. Permasalahan dosa yang dilakukan dikembalikan pada Allah SWT untuk mengampuni atau tidak. Aliran Mu’tazilah. Aliran ini berpendapat bahwa orang yang berbuat dosa besar bukan kafir tetapi bukan pula mukmin. Namun mereka terletak di antara dua posisi kafir  dan mukmin. Dalam teologi mu’tazilah orang seperti ini berada dalam posisi  “tanzilu baina manzilatain”. Aliran Qodariah. Aliran ini terkenal dengan pemikiran Free Will dan Free act (kebebasan berkehendak dan berbuat).

Aliran Jabariah. Aliran ini berkebalikan dengan pandangan aliran Qodariah yang menyatakan manusia mempunyai kebebasan berkehendak dan berbuat, sebaliknya aliran Jabariah berpandangan manusia dalam segala tingkah lakunya bertindak atas dasar paksaan dari Allah. Paham ini selanjutnya terkenal dengan predestination atau fatalism.

Aliran Asy’ariah merupakan aliran teologi tradisional yang di susun oleh Abu Hasan al-Asy’ari (935 M). Pada awalnya Abu Hasan al-Asy’ari merupakan orang Mu’tazilah yang merasa tidak puas dengan teologi Mu’tazilah. Dalam satu riwayat keluarnya Abu Musa al-Asy’ari dari Mu’tazilah dikarenakan ia pernah bermimpi bahwa Mu’tazilah di cap Nabi Muhammad sebagai ajaran yang sesat.

Aliran Maturidiah. Aliran yang didirikan oleh Abu Mansur Muhammad al-Maturidi (w.944 M). Dalam perkembangan selanjutnya dua aliran terakhir yakni Asyari’ah dan Maturidiah di kenal dengan nama aliran Ahlus Sunah Wal Jamaah. Kedua aliran ini dibedakan dalam lapangan hukum Islam. Aliran Asyariah lebih cenderung dengan pendekatan Imam Syafi’I, sedangkan aliran Maturidiah cenderung pada pendekatan Imam Hanifah.

B.  Beberapa Paham Aliran Yang Menyimpang

Munculnya berbagai macam aliran dewasa ini membuat resah kalangan masyarakat muslim pada umumnya. Pasalnya aliran-aliran tersebut dalam pokok-pokok ajarannya ditemukan unsur fundamental yang tidak bisa ditawar-tawar seperti pengakuan adanya Nabi baru, Al-Masih dan sholat dua bahasa. Kesemuanya itu pada dasarnya jika dikembalikan pada ajaran maenstrem umat Islam jelas bertentangan. Dasar Naqli dapat dengan mudah ditemukan dalam al-Qur’an maupun al-Hadis.

Allah berfirman dalam S. Al-ahzab :40 yang  Artinya : Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu.“

Dalam hadis Rasulullah SAW bersabda

  • Riwayat Imam Bukhari :

laa nabiya ba’dii “ (Rasulullah SAW  bersabda: tidak ada nabi sesudahku)

  • Riwayat  Imam Tirmidzi :

ina rasaalata wa nubuwah qad  inqothoat, falaa rasuula ba’di walaa  nabiya “  ( Rasulullah SAW bersabda : kerasulan dan kenabian telah terputus, karena itu tidak ada nabi dan Rasul sesudahku )

Sedangkan menurut Fatwa MUI Nomor: 11/MUNAS VII/MUI/15/2005 tentang aliran Ahmadiyah, isinya al:

  • Menegaskan kembali keputusan fatwa MUI dalam MUNAS II tahun 1980 yang menetapkan bahwa aliran ahmadiyah berada diluar Islam, sesat dan menyesatkan, serta orang Islam yang mengikutinya adalah murtad (keluar dari Islam)
  • Bagi mereka yang terlanjur mengikuti aliran Ahmadiyah supaya segera kembali kepada ajaran Islam yang haq yang sejalan dengan qur’an dan hadis
  • Pemerintah berkewajiban untuk melarang penyebaran faham Ahmadiyah di seluruh Indonesia dan membekukan organisasi serta menutup semua tempat kegiatannya.

C.   Sikap Terhadap Aliran Yang Menyimpang

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, sikap umat Islam terhadap aliran-aliran yang dikatakan menyimpang seperti uraian di atas adalah harus senantiasa mengedepankan cara-cara yang ma’ruf (yang baik) bukan dengan jalan anarkhi. Hal tersebut penting sebab, dalam konstitusi 1945 pasal 29 dan pasal 28 dengan terang benderang disebutkan bahwa negara menjamin kebebasan beragama dan berkeyakinan. Bahwa kemudian dalam masyarakat ditemukan berbagai macam aliran yang bertentangan dengan ajaran pokok Islam (Qur’an dan Hadis) tidaklah dibenarkan untuk melakukan tindakan yang anarkhi dan main hakim sendiri baik oleh individu atau kelompok.

Dalam UUD 1945 pasal 2 ayat 1 dijelaskan bahwa Indonesia adalah Negara hukum. Oleh karena itu, maka sejatinya dalam menyelesaikan berbagai macam permasalahan kehidupan berbangsa dan bernegara termasuk didalamnya masalah keyakinan  haruslah diselesaiakan dengan aturan hukum pula. Inilah yang sejatinya makna kampanye tokoh-tokoh agama yang menyuarakan tasamuh (toleran) dalam perbedaan.

Dalam perspektif Islam, sejarah sudah mencatat dengan jelas dan dipahami oleh seluruh umat, bahwa Islam didakwakan oleh Rasulullah dan diteruskan oleh para Sahabat, Tabiin, Tabi’ Tabiin, sampai para ulama’ adalah dengan jalan yang ma’ruf bukan dengan jalan yang munkar (anarkhi). Rasulullah SAW ketika berdakwa dan di tolak bahkan dimusuhi akan di bunuh, Rasulullah SAW tidak serta merta dengan otoritas keRasulan dan sebagai pemimpin umat tidak langsung menindas balik orang-orang tersebut. Sebaliknya Rasul justru mendoakan balik orang-orang tersebut supaya tidak di azhab dan mendapatkan hidayah dari Allah SWT.

Dalam konteks sejarah masuknya Islam ke Jawa, dengan jelas bahwa dakwa yang dilakukan oleh para Wali Songo adalah mengedepankan kesantunan melalui jalur budaya. Oleh karena itu, maka wajar kemudian sejarah mencatat bahwa Islam melalui tangan wali Songo mudah diterima dan dipahami oleh masyarakat lokal setempat. Atas dasar itulah, maka sikap yang harus kita tauladani dari cara Rasulullah SAW dan para ulama’ adalah tidak menggunakan cara kekerasan dan penindasan terhadap kelompok atau golongan yang berbeda dengan kita.

Dalam al-Qur’an Allah SWT berfirman  yang artinya : “serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

  


[1] Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahnya, h. 862

[2] Ahmad Mushthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, terj. Bahrun Abu Bakar, Juz 27, h. 24

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s